Hector menghentikan langkah kakinya. Ia berusaha menormalkan perasaannya yang berkecamuk. Pria di belakang adalah salah satu pasukan Dragoria yang sedang memburu tahanan. Yang tak lain adalah Evander. “Hei, pria gendut! Apa kau melihat dia?” salah satu prajurit menarik lengannya, hingga Hector berbalik. Ia menunjukan sebuah sketsa hitam putih bergambar Evander. “Saya tidak melihatnya,” jawab Hector berusaha menjaga intonasi bicaranya. Prajurit itu menatapnya tajam. “Apa kau buta? Kau yakin tidak melihatnya?” desaknya, tak mudah percaya.Hector mengangguk mantap. “Benar, aku tidak melihatnya. Dan, tidak mengenalnya,”Setelah mendapat jawaban itu, sang prajurit Dragoria pergi dari sana. Untuk sekejap, Hector mengusap dadanya. “Perjalanan yang membahayakan,” gumamnya, mendesah kasar. Lalu ia menggelengkan kepalanya ribut, teringat disuruh oleh Evander untuk mencari tabib. Pria bertubuh tambun itu berkeliling menyusuri deretan kabin kapal, matanya waspada menyapu setiap sudut, mencari
อ่านเพิ่มเติม