“Ah, tidak!” Ana menjerit kecil, setengah tertawa.Tiba-tiba dua sosok kecil berlari dari lorong, langkah kaki mereka menggema riang di lantai marmer. Tanpa aba-aba, Julian dan Juliana meloncat ke arah orang tua mereka.“Bu!” Julian menubruk Ana, hampir membuat wanita itu kehilangan keseimbangan.“Ayah!” Juliana tak kalah heboh, melompat ke pangkuan Leon tanpa ragu.“Ayo kita main, Ayah dan Ibu!” pekik mereka bersamaan, suara mereka memenuhi ruangan dengan keceriaan polos.Ana terkekeh pelan, refleks memeluk Julian yang kini bergelayut di lehernya seperti anak koala. “Pelan-pelan, Sayang. Ibu bisa jatuh.”Julian hanya tertawa, pipinya memerah karena terlalu bersemangat. “Tidak akan! Aku kuat!”Di sisi lain, Leon menatap Juliana yang kini duduk nyaman di pangkuannya, rok kecil gadis itu berantakan dan pita rambutnya nyaris lepas. Ia menghela napas panjang, ekspresinya setengah pasrah.“Putri kecil,” gumam Leon datar, “seorang bangsawan tidak meloncat seperti prajurit yang menyerbu bent
Última actualización : 2026-02-08 Leer más