Inez tersenyum mendengar setiap kalimat manis yang disampaikan oleh Evander. Ia bisa merasakan ketulusan hatinya, mencintainya. Kalimat itu bukan sekedar bualan. Namun, ia tidak ingin itu semua. Evander seorang pangeran. Setelah ia berpikir jauh, Evander tidak akan bisa hidup seperti dirinya. “Tuan,” imbuh Inez, suaranya melembut, tidak dingin seperti sebelumnya. Ia menatap Evander lekat. Wajah pria itu tampak tidak terawat. Jambang halus memenuhi pipinya. Namun, ia tetap terlihat tampan.“Jangan panggil aku, Tuan. Panggil Evan saja,” tukas Evander sembari membelai sisi wajahnya dengan begitu lembut. “Kau tahu, ketika kau memanggilku begitu … seperti ada jarak yang memisahkan kita. Dan, aku tidak mau,”Inez mendesah pelan. “Tetap saja … kau seorang pangeran. Rasanya aku kurang ajar jika memanggilmu dengan sebutan nama,” sergah Inez. Kini tangannya terulur pada pipinya yang agak kasar. “Jadi, bagaimana menurutmu? Mau kan nikah denganku?” imbuh Evander terdengar serius, tatapannya mena
Terakhir Diperbarui : 2026-02-03 Baca selengkapnya