Segalanya bergantung pada Raisa.Kasih sayang Raisa kepadanya adalah satu-satunya hal yang tidak boleh hilang dari hidup Bravi.Dia tidak memiliki obsesi pada hal lain."Terima kasih," kata Bravi kepada Dina. "Kalian berdua lanjut mengobrol, aku nggak akan mengganggu."Bravi bersiap untuk pergi ke rumah sebelah.Melihatnya hendak pergi, Dina segera berkata, "Kak, aku nggak menyuruhmu pergi, kau mau ke mana?"Bravi menjawab, "Hanya ke rumah sebelah.""Oh," kata Dina. "Kalian dulu bertetangga?""Iya."Dina bergumam, "Pantas saja, kedekatan memang bisa lebih mudah mendapatkan keuntungan."Bravi bertanya, "Kenapa? Apa kau nggak senang?"Dina terkejut dan segera tersenyum ramah. "Nggak kok, senang. Aku sangat senang!"Bravi berhenti menggodanya dan berbalik untuk pergi.Pikiran Dina masih kacau. Dia menatap Raisa dan bertanya, "Berarti kau masih kakak iparku, kan?"Raisa menjawab, "Iya." Ekspresi Dina langsung berubah saat itu. Dia berseru, "Raisa, kau benar-benar sudah menaklukkan keluarg
Read more