Setelah tinggalkan kata-kata dingin itu, Indra jepit rokok di jari, matikan bara di ujungnya, lalu berbalik dan pergi tanpa menoleh.Lukman hanya bisa menatap punggung yang menjauh itu, mata gelapnya berisi sesuatu yang sulit ditebak, amarah, iri, atau mungkin juga penyesalan....Beberapa jam kemudian, Puspa bawa seikat bunga segar menuju pemakaman.Ia berlutut di depan nisan neneknya, keluarkan tisu dari tas kecilnya, dan dengan hati-hati bersihkan debu di atas batu nisan itu. Setelah menata barang-barang, ia duduk bersila di tanah yang lembap.Menatap foto di batu nisan, wajah tua yang tersenyum hangat dan penuh kasih. Puspa perlahan angkat sudut bibirnya, bentuk senyum kecil yang sarat rindu.“Nenek, aku datang jenguk kamu.”Lalu ia menunduk sedikit, seolah dengarkan suara lembut dari jauh, kemudian tanya pelan, “Nenek juga kangen dengan aku, kan?”Ia jawab sendiri pertanyaannya, senyum getir di bibirnya nggak sempat hangatkan tatapannya.“Aku tahu, pasti Nenek juga kangen aku, sam
Read more