Wira melirik sekilas ke arah Wilson yang sangat lembut dan hangat, kemudian bandingkan ke temannya yang satu lagi, Indra, yang tiap hari wajahnya masam.Ia dalam hati mendecak. Dengan temperamen seperti itu, dulu bisa nikah juga cuma karena Puspa lagi cinta buta. Kalau bukan karena kecelakaan mobil waktu itu, jangan harap dia bisa punya istri.Tania, di sisi lain, justru sibuk berusaha “dorong” Puspa ke arah Wilson. Pria itu jelas-jelas suka dia, dan menurut Tania, peluang sebagus itu sayang untuk dilewatkan.Sayangnya, Puspa bersikap seolah nggak peka, santai, datar, bahkan pura-pura nggak lihat.Tania dalam hati menghela napas panjang. 'Pria sebaik itu, tulus suka kamu, kenapa justru kamu tolak, sih?'Wira yang duduk di seberang, ambil lauk dan taruh itu di piring Tania.“Makan saja. Nggak usah sibuk jadi mak comblang.”Nada suaranya datar, tapi jelas menyindir.'Sedikit pun nggak peka,' pikirnya kesal. 'Nggak lihat kalau Puspa itu nggak tertarik? Masih saja maksa. Nggak takut suasan
Baca selengkapnya