Dulu, setiap kali Indra dengar kabar kalau dia sakit atau nggak enak badan, Indra akan datang tanpa tunggu sedetik pun. Selalu jadi orang pertama yang muncul di hadapannya, beri perhatian penuh tanpa batas.Tapi, sekarang Wulan hanya bisa tertawa getir. Sekarang, pria itu bahkan nggak sudi dekatin dia, seolah hanya berharap kematiannya segera datang. Betapa ironis. Betapa menyedihkan. Betapa nyata.Indra nggak dekati ranjang rumah sakit. Ia duduk di sofa seberang, jaga jarak sejauh mungkin, jarak yang jelas tandakan penolakan dan hubungan yang dingin.Mata Wulan yang menghitam menatapnya tajam. Suaranya serak, kasar, tapi sarat dengan ejekan dan kebencian yang menumpuk bertahun-tahun.“Kenapa? Sekarang bahkan mendekat pun kamu nggak mau? Dulu kamu begitu lembut padaku, penuh perhatian. Istrimu, si Puspa saja, sudah berkali-kali kamu buang, demi jaga aku.”Indra datang bukan untuk mengenang masa lalu. Nada suaranya datar, dingin, tanpa emosi.“Kasih tahu saja. Kamu mau apa?”Sudut bibir
Read more