Begitu dengar ucapan itu, tenggorokan Wulan serasa dicekik. Wajahnya memerah, napasnya tersengal berat, seperti seseorang yang hampir kehabisan udara.Puspa bicara pelan, suaranya tenang tapi menusuk, “Seharusnya kakakmu terima kasih ke kamu. Kamu mati, dia selamat. Bukannya itu hasil yang bagus?”Sudut bibir Wulan berkedut terangkat, tawa seraknya pecah seperti cemooh.“Jangan kira aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu bilang gitu karena ingin aku mati, supaya Sonya juga ikut mati, kan? Huh, aku nggak akan biarkan kamu puas.”Puspa angkat alisnya, menatapnya seolah sedang lihat sesuatu yang konyol. Ia mendengus kecil. “Kamu pikir aku seperti kamu? Nggak bisa hidup tanpa Indra? Kamu benar-benar belum sadar, ya? Sekarang aku justru berharap Indra menjauh sejauh mungkin dari aku. Kalau kakakmu kembali, bagus. Mereka berdua bisa bersatu, saling cinta bersama sampai tua.”Ia berhenti sejenak, bibirnya terangkat bentuk senyum yang dingin. “Dan aku bisa hidup bebas, mulai hidup baru se
اقرأ المزيد