Karena kaki Puspa terluka dan ia nggak bisa turun dari ranjang, Indra taruh sebuah meja makan kecil di atas ranjang bahkan ia berniat suapi Puspa sendiri.Saat sendok didekatkan ke bibir Puspa, Indra berkata lembut, “Ayo, buka mulutnya.”Puspa menoleh, hindari suapannya.Dengan suara tenang, Indra ingatkan, “Tanganmu lagi luka.”Telapak tangannya terbalut perban, penuh luka dari pecahan kaca.Puspa menolak tanpa jawab sepatah kata pun, hadapi sikap keras kepala seperti itu, akhirnya Indra hanya bisa biarkan dia makan sendiri.Dengan sendok di tangan, Puspa makan perlahan, mengunyah kecil-kecil.Indra khawatir Puspa nggak akan sentuh makanan yang sudah disentuhnya, jadi ia nggak berani bantu sendokkan apa pun, hanya duduk diam menatapnya, seolah ingin mengukir sosoknya di dalam hati.Keduanya terdiam, kamar hanya dipenuhi suara kunyahan Puspa. Setelah Puspa selesai makan dan letakkan sendok garpu, Indra baru bicara.“Pria yang sakitin kamu itu sudah mati.”Puspa membeku dengar itu.Indr
Read more