Waktu sudah menunjuk angka tujuh pagi ketika Ariana berlari terburu-buru ke kamar mandi, tangannya menutup mulut sambil menahan rasa mual yang tiba-tiba datang menyergap.Begitu mencapai wastafel, tubuhnya membungkuk, dan suara muntah terdengar menghantam cermin dan dinding kecil ruang itu.Cairan kuning dengan aroma asam menyengat keluar dari perutnya, membuat dadanya terasa sesak. Tenggorokannya perih, matanya berair, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.Beberapa detik kemudian, Ariana terkulai lemas, memegang pinggiran wastafel untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.Dia menarik napas panjang, namun udara yang dia hirup terasa berat, seolah seluruh dunia menimpanya sekaligus.Sudah beberapa hari ini, sejak dia pergi dari rumah itu, dari Jason, dari masa depan yang seharusnya ia sambut tubuhnya terasa aneh.Mual yang datang tanpa aba-aba, perut yang terasa sensitif, tubuh yang cepat lelah. Dan pagi ini, untuk kesekian kalinya, mual itu menyerangnya lebih kuat dari sebelu
Read more