Lampu minimarket menyala pucat di tengah malam yang lembap. Peter berdiri di depan rak minuman energi, matanya merah, gerakannya gelisah. Tangannya gemetar saat mengambil satu kaleng, lalu satu lagi, seolah kafein bisa menambal lubang di dadanya. Di luar, jalanan sepi. Hanya suara mesin pendingin yang berdengung dan musik radio yang terlalu ceria untuk jam segini. Ia melirik ponselnya—tidak ada pesan. Tidak dari Yura dan tidak dari siapa pun. Perasaan diawasi membuat tengkuknya merinding, namun ketika ia menoleh, hanya pantulan dirinya sendiri di kaca pintu. Bel berbunyi saat pintu terbuka. Seorang pria masuk dengan langkah santai. Jaket gelap, topi ditarik rendah. Wajahnya biasa saja—jenis wajah yang mudah dilupakan. Eduardo. Ia mengambil rokok, lalu berdiri di belakang Peter, cukup dekat untuk berbagi udara. "Malam panjang," katanya ringan. Peter menoleh sekilas, mengangguk tanpa senyum. "Ya."
Last Updated : 2026-01-08 Read more