Langit menggelap lebih cepat dari seharusnya.Di jalan yang sama, berjarak beberapa pal dari tempat Raras direnggut, Rakai menghentikan kudanya mendadak. Dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas. Seolah ada benang halus yang ditarik paksa dari jantungnya.“Berhenti,” katanya pendek.Para pengawal saling berpandangan. “Ada apa, Kakang Rakai?”Rakai turun dari kuda. Tangannya mengepal, napasnya tidak beraturan. Bayangan wajah Raras pucat, tegang, lalu menghilang melintas begitu saja.“Raras,” gumamnya.Perasaannya tidak pernah salah.Ia berbalik tajam. “Haryo.”Haryo yang sejak tadi berjalan santai di belakang, tersenyum miring. “Kenapa menatapku seperti itu? Seolah aku mencuri sesuatu yang berharga.”“Kau tahu ke mana dia pergi,” kata Rakai dingin.Haryo mendengus pelan. “Pergi? Ah… itu kata yang terlalu lembut.”Rakai melangkah mendekat, auranya berubah. “Jawab.”Haryo menatapnya tanpa gentar. Justru ada kepuasan licik di matanya. “Aku hanya mengantar seorang perempuan kembali ke t
آخر تحديث : 2026-01-16 اقرأ المزيد