Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika mereka tiba di bibir sungai perbatasan.Airnya lebar, arusnya tenang tapi dalam, jenis sungai yang tampak ramah namun menyimpan kematian bagi yang lengah.Sebuah perahu kayu tua terikat di batang pohon, siap dipakai menyeberang. Di seberang sana, tanah Pasren benar-benar berakhir. Setelah itu, wilayah netral yang tidak tunduk pada siapa pun.Rakai menurunkan ransel. Arya memeriksa tali perahu. Reyas berdiri agak jauh, masih pucat tapi memaksa diri tetap tegak. Raras berdiri paling belakang, satu tangannya menekan bahu yang masih nyeri, wajahnya pucat namun fokus.“Kita menyeberang cepat,” kata Rakai. “Sekali di tengah sungai—”Anak panah menancap di papan perahu.Bukan peringatan.Serangan.Kabut di seberang sungai bergerak.Bukan karena angin, tapi karena langkah.Satu sosok maju lebih dulu, tubuhnya tinggi, dibalut pakaian hitam tanpa lambang. Wajahnya tertutup setengah topeng besi tipis. Di belakangnya, bayangan lain bermunculan sepuluh,
Last Updated : 2026-01-01 Read more