Share

Bab 155

Author: Fei Adhista
last update Last Updated: 2026-01-23 22:06:30

Malam di Indragiri jatuh cepat, seperti tirai yang sengaja ditarik untuk menyembunyikan niat buruk. Api obor menyala di sepanjang tembok benteng, bayangan prajurit bergerak patah-patah di batu, menciptakan ilusi jumlah yang lebih besar dari kenyataan.

Rakai berdiri di balik gudang garam tua di sisi barat pelabuhan sungai. Jubahnya gelap, menyatu dengan malam. Di sekelilingnya, pasukan kecil yang ia bawa dari Mandalajati berjongkok senyap. Tidak sampai seratus orang. Tapi semuanya pilihan. Orang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 155

    Malam di Indragiri jatuh cepat, seperti tirai yang sengaja ditarik untuk menyembunyikan niat buruk. Api obor menyala di sepanjang tembok benteng, bayangan prajurit bergerak patah-patah di batu, menciptakan ilusi jumlah yang lebih besar dari kenyataan.Rakai berdiri di balik gudang garam tua di sisi barat pelabuhan sungai. Jubahnya gelap, menyatu dengan malam. Di sekelilingnya, pasukan kecil yang ia bawa dari Mandalajati berjongkok senyap. Tidak sampai seratus orang. Tapi semuanya pilihan. Orang-orang yang pernah bertempur bersamanya dan tahu satu hal pasti.Malam ini mereka tidak boleh kalah.“Gerbang air akan dibuka sebentar lagi,” bisik Arya, muncul dari balik bayangan. “Pengiriman senjata dari selatan. Atas nama Indragiri, tapi kuda-kudanya bercap Majakirana.”Rakai tersenyum tipis. Dingin.“Haryo bermain terlalu rakus,” gumamnya. “Ia lupa bau pengkhianatan selalu tertinggal.”Ia mengangkat tangan. Isyarat senyap menyebar. Dua orang bergerak memanjat dinding rendah. Yang lain menyu

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 154

    Rakai mengangkat wajah ketika tabuhan genderang itu berhenti. Sunyi yang menyusul justru terasa lebih berbahaya.Ia menatap Raras, lalu ke arah pintu tertutup. “Wijaya tidak akan menahanmu lama jika dia merasa diuntungkan.”“Dan Haryo,” sahut Raras pelan, “akan memastikan kita saling membunuh tanpa ia harus mengotori tangannya.”Rakai mengangguk. “Karena itu aku datang sendiri. Pasukan yang kubawa hanya pengawal inti. Aku tidak ingin memberi Wijaya alasan menyebut ini invasi.”Raras tersenyum pahit. “Kau selalu berpikir selangkah ke depan. Tapi kali ini, kita berada di papan catur orang lain.”Langkah kaki terdengar di luar. Tidak tergesa. Terlalu tenang.Pintu kembali terbuka. Seorang pria berusia setengah baya masuk, pakaian kebesarannya sederhana namun berwibawa. Matanya tajam, menyapu ruangan sekali lalu berhenti pada Rakai.“Pangeran Rakai,” ujarnya. “Raja memintamu menghadap.”Rakai menoleh pada Raras. “Aku akan kembali.”Raras menahan lengannya. Pegangannya tidak kuat, namun cu

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 153

    Kabut Indragiri menyambut seperti dinding dingin ketika armada Rakai merapat sebelum matahari benar-benar naik.Sungai besar itu tenang di permukaan, namun arus di bawahnya kuat dan licik, sama seperti negeri yang menguasainya. Tebing-tebing hijau menjulang di kiri kanan, sementara menara pengawas Indragiri berdiri angkuh, benderanya berkibar perlahan seolah sudah menanti.Rakai berdiri di haluan kapal utama. Jubah perangnya basah oleh embun malam, rambutnya terikat rapi. Tatapannya lurus ke depan, ke arah pelabuhan Indragiri yang mulai ramai oleh prajurit bersenjata tombak panjang dan perisai hitam berukir lambang singa.“Mereka tahu kita datang,” ujar salah satu panglima di belakangnya.“Tentu,” jawab Rakai singkat. “Indragiri tidak pernah buta.”Terompet panjang ditiup dari darat. Bukan tanda serangan, melainkan sambutan yang dingin dan resmi. Kapal-kapal Rakai dipersilakan merapat, namun formasi pasukan Indragiri sudah terbentuk rapat. Tidak ada celah, tidak ada keramahan.Begitu

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 152

    Benturan itu tidak terjadi di medan perang.Ia lahir di balairung Majakirana, di antara kata-kata yang terlalu tajam untuk ditarik kembali.Pangeran Haryo datang ke istana Mandalajati tanpa pemberitahuan resmi. Tidak membawa pasukan besar, hanya pengawal inti, namun kehadirannya cukup membuat udara Majakirana mengeras. Ia melangkah masuk dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata.Pangeran Laga menyambutnya berdiri, wajah tenang, tangan terlipat di belakang punggung.“Kau datang cepat,” ujar Laga. “Seolah takut kehilangan sesuatu.”Haryo tertawa kecil. “Aku justru datang untuk memastikan semuanya berada di tempat yang seharusnya.”Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Rakai yang berdiri di sisi kanan balairung.“Kau belum pergi,” kata Haryo, nadanya ringan. “Aku kira kau sudah berlayar ke Indragiri.”Rakai melangkah maju satu langkah. “Aku tidak perlu izinmu untuk bergerak.”Haryo menoleh penuh minat. “Benarkah? Kau lupa satu hal, adikku.”Ia mendekat, suaranya merenda

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 151

    Kabar itu tiba di Majakirana saat matahari baru naik setinggi tombak.Bukan lewat utusan resmi. Bukan lewat panji kerajaan.Melainkan lewat bisikan para pedagang lintas wilayah, yang lebih cepat dari kuda perang dan lebih tajam dari pedang.“Perempuan itu sudah di Indragiri.”“Gusti Raras.”“Dibawa langsung oleh Raden Wijaya.”Rakai sedang berdiri di balkon Mandalajati ketika Arya menyampaikan kabar itu. Angin pagi mengibaskan jubahnya, membawa aroma laut dan besi pelabuhan. Untuk sesaat, Rakai tidak bergerak. Tidak bertanya. Tidak bereaksi.Seolah dunia berhenti bernapas.“Kau yakin?” suara Rakai akhirnya terdengar. Rendah. Terlalu tenang.Arya mengangguk. “Tiga sumber berbeda. Pedagang Pasren, awak kapal Daha, dan satu mata lama kita. Semua menyebut hal yang sama. Raras resmi berada di wilayah Indragiri.”Jari Rakai mencengkeram pagar batu. Batu keras itu retak halus di bawah tekanannya.“Bagaimana caranya,” gumamnya. “Dia tidak akan pergi tanpa perlawanan.”“Dia tidak pergi,” jawab

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 150

    Langit sore itu berwarna kelabu, seolah ikut berduka atas seseorang yang dicabut paksa dari takdirnya sendiri.Kereta kerajaan berhenti di gerbang perbatasan Indragiri. Panji-panji merah tua dengan lambang singa emas berkibar pelan tertiup angin. Lambang yang dulu begitu akrab di mata Raras. Kini justru membuat dadanya terasa sesak.Ia turun perlahan dari kereta. Tidak ada rantai. Tidak ada borgol. Namun dua baris prajurit yang mengapitnya sudah cukup menjelaskan bahwa kebebasan bukan lagi miliknya.Di hadapannya berdiri seorang pria yang pernah ia kenal terlalu dekat.Raden Wijaya.Pakaian kebesarannya rapi, jubah perang disampirkan di bahu, wajahnya tetap tegas seperti yang ia ingat. Namun sorot matanya berbeda. Lebih dingin. Lebih berhitung. Dan justru itu yang menyadarkan Raras bahwa lelaki di depannya bukan lagi pria yang dulu memanggil namanya dengan suara rendah di malam-malam sunyi.“Selamat datang di Indragiri,” ucap Wijaya akhirnya.Nada suaranya tenang, hampir sopan. Seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status