Bab 417: Menembaki Pengungsi? Di dalam menara, perapian berderak dan menyala, kehangatannya menyebar perlahan melalui dinding batu. Angin dingin tertahan oleh bingkai jendela yang berat, hanya menyisakan suara tumpul rintik hujan yang menghantam kaca. Kyle Raymond, dengan jubah bulu yang berat, berdiri di depan jendela besar setinggi langit-langit. Ia memegang segelas anggur merah; warnanya pekat, dan di bawah cahaya api, anggur itu tampak seperti lapisan darah yang mengalir pelan. Ia menempelkan teropong bertenaga tinggi ke matanya, tatapannya menembus tirai hujan dan mendarat di Blackrock Canyon yang berjarak beberapa kilometer. Itu adalah pemandangan neraka. Pintu masuk ngarai sepenuhnya tertutup, dengan puluhan ribu pengungsi berjubel di lorong sempit, tubuh mereka saling berhimpitan, menggeliat perlahan di air lumpur. Hujan deras membasuh segala kotoran, dan sesekali tangisan serta jeritan terkoyak oleh angin dan hujan, hanya menyisakan d
Read more