“Ibarat kata, kita hanya memotong bagian akar agar pohon itu tidak tumbuh. Tanpa kita tahu, rantingnya justru sudah merambat ke mana-mana dan siap menjerat kita. Paham?” Darrel terdiam sesaat, mencerna analogi ayahnya dengan sangat dalam. Ia mengerutkan keningnya, menciptakan lipatan serius di wajah mudanya yang biasanya ceria. Perlahan, otot-otot di bahu dan lengannya menegang, menunjukkan reaksi tubuh yang sedang bersiap menghadapi ancaman nyata. Darrel beranjak, menjauhi Damar beberapa langkah, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar dengan sorot mata waspada—seolah-olah musuh itu bisa saja muncul dari balik tirai atau celah pintu saat ini juga. “Ayah benar juga,” ucap Darrel, suaranya kini terdengar lebih dewasa dan mantap. Setelah membuka jendela kamar dan membiarkan sorot sang surya perlahan menyinari kamarnya, ia berbalik badan, “... kalau begitu, aku siap membantu, Yah. Jadikan aku sebagai umpan!” Damar tersentak, tatapannya menajam penuh kecemasan. Ia
Última actualización : 2026-01-17 Leer más