“Pegang sedikit! Bangunin, please. Aku takut, milikku gak bisa bangun. Ayo, cobain. Bentar aja!, bisik Sagara dengan suara rendah yang serak, matanya menatap Ara dengan binar nakal sekaligus menantang. Sagara benar-benar tidak tahu malu, seolah rasa sakit yang hampir merenggut nyawanya beberapa hari lalu sudah menguap tak berbekas, digantikan oleh hormon yang meledak-ledak.Sementara itu, Ara membeku, jantungnya berdegup kencang antara ingin marah, tertawa, atau lari dari sana. Memegang sebentar ujung ‘aset’ Sagara yang pernah membuatnya kesakitan waktu itu—membuatnya ngeri.“Gara, kamu gila ya? Ini rumah sakit! Kalau perawat masuk gimana?!” protes Ara kesal. Bibirnya mengerucut.“Hei, inget gak? Ini rumah sakit elite. Kalaupun perawat mau masuk, mereka tidak akan langsung nyelonong. Pasti ketuk pintu dan minta izin dulu. Ya, ‘kan?” goda Sagara dengan suara yang semakin merayu. “Ayolah, bentar aja. Kamu pasti—”“Gak! Aku gak mau!” sahu
Terakhir Diperbarui : 2026-01-18 Baca selengkapnya