LOGIN“Apa yang bisa saya lakukan supaya nilai saya bagus, Pak?” Diana bersandar di kursinya, menatap penuh arti pada pria yang dikenal sebagai dosen killer itu. Dosen dengan reputasi dingin bernama Damar Setyawan itu menaikkan satu alis. Senyum tipis melintas di wajahnya yang lebih mirip ejekan daripada keramahan. “Kamu sudah gagal empat kali, Diana. Kamu tahu artinya? Gelar sarjanamu bisa lenyap. Masa depanmu habis.” Diana pura-pura menggigit bibir bawahnya, lalu mencondongkan tubuhnya pada pria itu. “Kalau begitu … saya harus cari jalan lain, ‘kan?” suaranya terdengar manja, sengaja dibuat lirih. “Saya tahu Bapak bisa bantu. Saya bisa … membalas dengan cara lain.” Diana berhenti sebentar, menahan senyum nakal di bibir. “Saya bisa kok jadi sugar baby Bapak,” lanjutnya, pelan tapi jelas. “Anggap saja … kompensasi tutup mulut atas malam itu.” Tatapan Damar mengeras, seakan menimbang keseriusannya. Tapi Diana tidak bergeming. Ia justru semakin berani, bibirnya mendekat ke telinga pria itu. “Saya serius, Pak,” bisiknya dengan mata berkilat menantang. “Kapan kita mulai?”
View More“Eumh … kenapa diam saja? Ayo kita ke kamar dan bercinta! Apa kau bisa memberiku uang setelah ini?” racau Diana sambil mengalungkan tangan kepada pria asing yang ada di lorong itu.
“Berapa yang kau minta?” Bagai kucing diberi ikan, siapa yang akan menolak? Meski pria ini tidak mengenal wanita yang tetiba memeluknya, tapi hasrat bergelora dalam dirinya tak bisa ditahan. “Tidak banyak! Hanya … 10 juta untuk biaya hidup. Bagaimana kalau kita ke dalam sana. Kau tahu, milikku sudah….” Bibir tipis Diana menggumam, cekikikan dan tatapannya sayu karena dia menenggak alkohol begitu banyak. Sedangkan pria yang ada di depan Diana tadi menyeringai. Dia baru saja meeting dengan seseorang di bar ini dan memesan minuman. Ternyata, minuman itu itu mengandung obat perangsang. Dan sialnya, dia tak dapat menahan semua itu. Dia juga butuh penyaluran hasrat. “Baiklah kalau kau hanya meminta nominal itu. Kuharap kau tidak menyesal setelah ini, Nona,” kata pria itu sambil mendorong Diana masuk ke dalam kamar yang telah dipesankan rekannya. “Aku tak akan menyesal. Silakan lakukan sesuka hatimu, aku milikmu malam ini!” kekeh Diana yang semakin membakar hasrat pria itu malam ini. Sambil terkekeh, telapak tangan Diana mengusap tonjolan keras di celana. Dan tanpa sadar dia meracau, “Aku juga ingin tahu. Pria tegap dan gagah sepertimu apakah memiliki ukuran yang panjang dan besar? Satu lagi … aku juga ingin tahu. Apakah kau memiliki durasi ber-cin-ta yang lama atau tidak? Kurasa … mungkin hanya sepuluh menit!” “Kau merendahkanku? Oh, baiklah kalau begitu. Aku akan mencobanya. Jangan menyesal kalau kau tak bisa berjalan setelah ini, Nona." maki pria itu dengan kesal. Tanpa menunggu lebih lama lagi, pria itu segera membopong tubuh wanita cantik dengan tinggi 165 cm ini, lalu membawanya ke dalam kamar yang dipesan rekannya. Ia tak berbuat lembut sedikit pun! Begitu sampai di dekat ranjang, ia hempaskan tubuh itu ke atas ranjang. “Ah! Kau kasar sekali, Tuan! Bisakah saat bermain nanti kau juga memperlakukanku seperti ini? Oh, … ah!” racau Diana sambil merintih dan berkata yang tidak-tidak. Sejenak, pria itu memandang Diana sekilas. Ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Setelah menghempaskan benda berwarna abu-abu gelap itu sembarangan ke lantai, barulah ia melepaskan kemejanya. Kancing kemeja satu per satu terlepas, memperlihatkan pemandangan yang memanjakan mata. Otot-otot kekar terpampang jelas, hasil kerja keras di gym. Bisepnya meliuk indah saat ia mengangkat tangan, menunjukkan definisi yang sempurna. Rahangnya tegas, terpahat dengan ketampanan yang sangat alami khas pria pribumi. Mata cokelatnya memancarkan intensitas yang membuat jantung berdebar. Rambut hitamnya lebat dan sedikit berantakan, menambah kesan maskulin. Alisnya begitu tebal, membingkai tatapan tajam yang menusuk. Penampilan yang membuat siapa pun akan terpana, tak terkecuali Diana yang langsung menubruknya tadi. Setelah itu, pria ini memperhatikan wanita di atas rangjang yang bergerak bagai cacing kepanasan. Bagaimana tidak? Kemungkinan wanita itu juga terpengaruh obat perangsang. Sekian lama memindai tubuh Diana atas sampai bawah. Satu kata … cantik dan seksi. Payudara besar, bokong padat berisi dan tubuh ideal. Sial. Jakunnya bergerak liar naik dan turun seirama dengan gemuruh di dadanya yang makin menggila setiap detiknya. Bibir memuji lirih, “Apa dia tidak akan menyesal setelah ini? Sialan apa dia memang sungguh masih perawan?” Ia memperhatikan wanita itu dengan gelisah. Denyut di organ intinya tak dapat dicegah. Setiap detiknya berkontraksi, ingin sekali langsung menjamah. Tapi, ia tak akan terburu-buru. Sebelum ia melakukan itu dengan wanita ini, dia harus memastikan apakah wanita ini benar-benar masih ‘tersegel’ atau tidak. Begitu ia menjatuhkan bobot tubuh ke atas ranjang, ia lihat Diana sudah melepaskan rok mini setinggi di atas lutut. “Ah, gerah sekali! Kenapa kau tidak langsung memberiku penawar! Oh, ayolah! Kumohon, sentuh aku!” “Sial!” Pria itu berdecak. Pemandangan indah tersaji di hadapan, membuat sekujur tubuhnya meremang. Terutama di bagian bawah sana, semakin tegak paripurna di antara kedua paha. Kulit paha putih mulus tanpa cela, celana dalam tipis berendam model g-string, berwarna merah tua yang sangat kontras dengan kulit seputih susu. Kini, akal sehat pria itu mulai terkikis. Waktu beranjak malam, dan ia harus segera menuntaskan hasratnya detik ini juga. Lalu, dia jatuhkan tubuhnya di atas tubuh wanita itu, menindih kuat. Jemari kokoh membelai pipi tirus nan cantik, mengenyahkan anak rambut yang berseliweran di dekat wajah. Kemudian, bibir tipisnya bertanya, berbisik di dekat telinga Diana yang sepertinya sangat sensitif. “Apa kau yakin dengan ini?” “Ya.. aku butuh uang.” “Baiklah! Kita akan mulai sesi pertama!” Bangkit lagi dari atas tubuh Diana, pria itu kembali menegakkan badan di samping ranjang. Tak lupa, ia melepas celana dalam merah tua milik wanita itu dan terdengar lenguhan manja dari bibir seksi berpoles lipstick merah menyala. “Ah … cepat masukkan milikmu di sini! Milikku gatal sekali!” “Tunggu sebentar!” kata pria itu. Ia kemudian melepaskan celananya begitu saja, mengambil sebuah pengaman dan memasangkannya secara asal. Kemudian …. “Ah … sakit!” Diana memekik lirih. Dia mencakar tubuh pria yang ada di atasnya. Sebuah benda tumpul menerobos masuk, membuatnya memekik dan dirinya terasa sangat penuh. Pandangannya berkabut efek alkohol yang dia tenggak, pria itu tak jelas wajahnya tapi … sangat tampan. Maka, Diana menggumam dan meracau guna mengenyahkan rasa sakit yang terasa membelah tubuhnya. “Milikmu besar sekali! Kau ….” “Kau ternyata memang masih perawan, huh?” Sedangkan pria yang berada di atasnya menyeringai. Ia tetap menghentak kuat wanita yang ada di bawahnya tanpa peduli rintihan dan erang kesakitan terucap dari bibir Diana. Sakit, semua terasa sangat sakit. Namun, semua telah kepalang basah. Diana tak mungkin mundur. Dia pun akhirnya memohon dengan tatapan sayu pada pria itu. Tak merasakan gerakan apa pun, dia mendesak, “Ah … kenapa kau tidak bergerak? Bukankah aku memintamu melakukannya dengan keras? Atau, … kau justru impoten dan ingin keluar?”Damar terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada daun pintu yang baru saja tertutup rapat. Meski batinnya sama curiganya dengan sang putra, ia mencoba tetap berpijak pada logika. Memindahkan pasien pasca operasi besar bukanlah perkara sepele.Kini, ia beralih menatap putranya dengan serius. “Kamu yakin mau pindah ke rumah sakit kita? Pindah itu nggak semudah membalikkan telapak tangan, Saga. Ada prosedurnya, ada risiko medis yang harus dihitung matang-matang. Jangan gegabah deh karena ini. Justru dengan tetap di sini, kita bisa tahu kalau ada yang ingin celakain kamu. Kita bisa ringkus dia. Gimana sih!”Diana yang sejak tadi diam dan menyimak, ikut menyela, “Ada apa sih, Mas? Kenapa ini? Kok jadi bahas ada yang nyelakain segala? Siapa?” Secara singkat, Damar segera menjelaskan semuanya. Dugaannya, dan semua analisisnya.Lalu, Diana mengangguk. “Oh, gitu ya, Mas. Iya juga sih, kita wajib curiga mengingat Louis udah disinggung Sagara dan gak menutup kemungkinan Louis akan balas denda
“Biarin! Biar sekalian Ayah iriskan telinga gajah buat gantiin telinga kamu itu! Salah sendiri nakalnya gak ketulungan! Dan siapa suruh mulut kamu ini ngoceh gak tahu berhenti, hah? Siapa suruh?” geram Damar sambil terus memutar telinga Sagara, mengabaikan rintihan manja putranya yang sebenarnya sudah kembali bertenaga untuk menjahili orang lain.Candaan mereka seketika terhenti saat pintu kamar rawat diketuk dari luar. Seorang pria berseragam medis masuk dengan langkah tenang, menyatakan niatnya untuk memeriksa Sagara.Baik Diana, Damar, dan Sagara menoleh ke ambang pintu yang terbuka. “Dokter?”“Selamat siang, Tuan dan Nyonya Setyawan. Saya Dokter Tommy, saya ingin memeriksa kondisi Tuan Muda Sagara,” ucapnya sopan.Damar beranjak dari duduknya, seketika bersikap waspada. Matanya memicing, memperhatikan dokter itu yang datang sendirian tanpa ditemani perawat, bahkan tanpa membawa map laporan medis di tangannya. Sebagai orang yang sangat teliti, Damar tahu Sagara ditangani oleh tim
Damar memijat pangkal hidungnya. Sangat kesal menghadapi Sagara yang tak tahu aturan itu. “Kalau dia gak mau, kamu mau apa? Jangan sok nekat gitu deh, Saga! Bunda gak mau kamu babak belur lagi karena obsesi gila kamu itu. Ngerti, gak?” tanya Diana dengan nada cemas sekaligus lelah. Sagara melepaskan selang oksigen yang melilit wajahnya. Dengan seringai tengil, ia menyahut santai, “Aku paksa dia berhubungan lagi, lalu aku pastiin dia hamil! Sesimpel itu, masa Bunda gak ngerti sih? Aku mau niru cara Ayah dan Bunda, kayaknya seru!” PLAK! Geplakan keras dari Damar mendarat tepat di kepala Sagara, membuat pemuda itu meringis dan nyaris tersedak. Pria paruh baya itu menatap putranya dengan urat leher yang menegang; ia benar-benar habis kesal melihat Sagara yang otaknya seolah hanya berisi urusan selangkangan. “Apa di otak kamu gak ada ide l
Arnold sengaja memancing Damar agar paham dengan kode yang ia maksudkan. Sebab sedari tadi, tidak ada pertanggungjawaban berupa uang yang ia idam-idamkan. “Kami rasa memang sudah seharusnya begitu agar semuanya jelas secara hukum dan agama. Kami paham maksud, Anda, Tuan Harven. Mohon izinkan mereka menikah,” timpal Diana dengan nada memohon. Arnold menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu menyilangkan kaki dengan gestur otoriter. “Baik. Begini saja, mari kita pikirkan jangka panjangnya. Mereka baru mengenal beberapa waktu belakangan dan jelas-jelas belum tentu cocok satu sama lain. Bagaimana kalau dipaksakan menikah, lalu lambat laun Sagara bosan dengan Ara?” Sebelum Damar mendebat argumennya, suara Arnold lebih dulu meninggi satu oktav. “Apa yang akan kalian lakukan sementara mungkin saja akan ada anak di antara mereka yang tentu akan menjadi korban perceraian? Apa kalian tidak berpikir sejauh itu? Kalian pasti tahu, di agama kami, hanya ada
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore