“Hm.” Damar menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kekuasaan. Ia melirik Arnold sinis. “Di dunia ini, apa yang tidak bisa dilakukan dengan koneksi yang tepat?”Arnold memutar bola matanya malas mendengar ucapan Damar yang begitu angkuh. Meski dalam hati ia mengakui kekuatan koneksi calon besannya itu, sifat pamer Damar selalu berhasil menyulut harga dirinya. Namun, Arnold memilih untuk tidak mendebat lebih jauh. Baginya, keselamatan Sagara dan masa depan Ara jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan adu mulut tentang siapa yang lebih berkuasa.“Terserah kamu saja, Mar. Yang penting anak-anak selamat sampai di sana,” gerutu Arnold sambil melipat tangannya di dada.Usai keduanya bersepakat, Damar segera merogoh saku jasnya, mengambil ponsel dengan gerakan yang efisien dan penuh percaya diri. Ia mencari sebuah nama di daftar kontaknya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga.“Halo, selamat siang, Pak Dekan. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda,” sapa Damar. Suaranya berubah
Last Updated : 2026-01-13 Read more