Malam itu langit mendung, angin dingin menusuk tulang saat mobilku berhenti di depan rumah duka. Langkah kakiku berat, tapi pikiranku lebih berat lagi. Galuh… sahabat sekaligus klien kerjaku, meninggal dunia bersama istrinya. Kecelakaan tunggal, katanya. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di dada.Begitu aku masuk, aroma dupa bercampur bunga melati langsung menyergap. Tangis terdengar di beberapa sudut, namun satu sudut ruangan justru sunyi—di sana, seorang anak laki-laki duduk diam, menunduk, menatap lantai dengan mata merah menyala.Dipta. Usianya lima belas tahun. Putra semata wayang Galuh.Aku mendekat pelan. Dia tidak menoleh, tidak menangis, tidak bicara. Tapi dari rahangnya yang mengeras, dari kepalan tangannya yang gemetar, aku tahu… dia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar air mata.“Dipta,” panggilku lirih.Dia tetap diam. Lalu, setelah beberapa detik, akhirnya ia mengangkat wajahnya. Sorot matanya tajam, tapi kosong. Seperti seseorang yang b
Last Updated : 2026-05-15 Read more