LOGINAku terpaksa menjadi pengantin pengganti karena mama menghilang tepat di hari pernikahannya. Om Abimanyu—lelaki yang seharusnya menjadi papa tiriku kini justru menjadi suamiku sendiri. Kebaikan dan kelembutan Om Abimanyu mulai meluluhkan hatiku, saat aku sadar itu cinta aku mulai mendapat kabar tentang mama. Ternyata mama ... follow Instagram Masatha2022
View More冬に入ってからというもの、夜の時間はいつもあっという間に過ぎていく。
|藤野陽菜《とうのひな》は、書斎の本棚につき始めた埃を掃除し終えたばかりだったが、雇い主であり同居人でもある人物から電話がかかってきた。
「陽菜さん、迎えに来てもらえますか」
電話越しの男性の声は、実際の声とはどこか違って、まるで劣化した古いレコードの音のように歪んで聞こえた。
陽菜は一瞬意識がふわりと浮き、相手の男性が返事を待って電話を切らずにいることに気づいて、慌てて口を開いた。
「鷹宮さん、今どちらにいらっしゃいますか?」
|鷹宮凌《たかみや りょう》はホテルの名前と住所を告げた。そう遠くはない距離だった。
「わかりました、すぐに向かいます」
陽菜は頭の中で住所を繰り返しながら、玄関の鏡で自分の服装をもう一度確認する。鷹宮に恥をかかせるような格好ではないと確認してから、
「鷹宮さん、ついでにお聞きしますが、お酒を飲まれたんですか?」
と尋ねた。
「うん、少しだけね」
受話器の向こうで、鷹宮はかすかに笑った。
「タクシーで来て。費用は僕が出すよ。今日は車で来たから、君が来たら僕の車で帰っていいよ」
「ありがとうございます、鷹宮さん」
電話を切った後、陽菜は厚手のコートを羽織って慌ただしく外へ出た。
階段を降りたところで、先に配車アプリで車を呼んでおけばよかったと少し後悔した。
夜の住宅街はひっそりとしていて、車が入ってくることも少ない。陽菜は大通りへと歩きながら、アプリを開いて現在地を確認しつつタクシーを呼んだ。
このアプリの操作には慣れている。鷹宮の家に住み込みで働くようになってからというもの、何度も彼の代わりに手配してきたからだ。
今日のように自分が迎えに出るのは珍しい。
鷹宮は基本的に人に手間をかけさせるのを好まない性格で、陽菜の日常の生活費や給料を負担しているにもかかわらず、態度は常に丁寧だ。
よほど酒を飲んだ時でなければ、彼のほうから陽菜を呼び出すことはまずない。
酔っている時の鷹宮は、普段よりも少し甘えたような、誰かに寄りかかりたくなる雰囲気になる。
だから電話がかかってくると、陽菜は大体察しがついた。
この時すでに23時近く、大通りに出ると街はまだ賑やかだった。
タクシーに乗ってからホテルに着くまでにかかった時間は約二十分。車を降りるとすぐに、ホテルの正面口で待っている鷹宮の姿を見つけた。
彼もちょうど接待を終えたところだったのか、周囲には数人の人たちがいて、鷹宮と軽く言葉を交わしていた。一人の若くて華やかな服装の女性が最も近くに立っており、左手が今にも鷹宮の肩に触れそうな距離にあった。
そんな中、鷹宮はいち早くタクシーから降りてくる陽菜を見つけ、周囲の人たちに別れの挨拶をし始めた。
「え〜鷹宮さん、もう帰っちゃうんですか?この後みんなで次のお店行こうって話してたんですよ、一緒に行きましょうよ」
「いや、僕はいいよ。家族が迎えに来てくれたから」
陽菜が近づくと、その女性の名残惜しそうな声と鷹宮の返事が聞こえてきた。
以前も何度か、鷹宮が酔って陽菜が迎えに行ったことがあり、その時に彼の友人や会社の同僚と軽く顔を合わせたことがある。その際も、鷹宮は彼女のことをこう紹介していた。
家族——
もしかしたら、陽菜の年齢を気遣って、家政婦という肩書きを与えたくなかったのかもしれない。あるいは単に、自分が若い家政婦を雇っていることを他人に知られたくなかっただけかもしれない。
理由がどちらであれ、鷹宮の口から「家族」と呼ばれるたびに、陽菜の胸は無意識に高鳴ってしまうのだった。
まるで恋をしてしまったかのように——
Suami dan Papa mertuaku tiba-tiba masuk kembali ke ruangan. Wajah mereka pucat, cemas... dan ada kegelisahan yang tidak bisa mereka sembunyikan. Aku langsung merasa ada yang tidak beres.Om Abimanyu—suamiku—langsung menghampiriku, tanpa berkata-kata, dia memelukku erat. Sangat erat, seakan mencoba menahan tubuhku agar tidak runtuh. Pelukannya begitu kuat, penuh kegelisahan yang sulit dijelaskan.“Aku mohon... sabar ya, Sayang,” bisiknya lirih di telingaku. “Kamu harus kuat.”Jantungku berdetak tak karuan. Tanganku refleks mencengkeram bahunya.“Ada apa, Om?” suaraku bergetar. “Kenapa... kenapa kalian begini? Om... bilang!”Dia menunduk. Matanya memerah.“Mama...” Suaranya terputus. “Mama kamu... beliau enggak bertahan, Florina.”Dunia seketika runtuh di sekelilingku. Kepalaku seperti dipukul palu godam. Mataku membelalak, tubuhku terasa ringan, dingin, seperti tak bernyawa.“T-tidak...” bibirku gemetar. “Om bohong... Mama masih di ICU! Om bohong!”Aku mendorong tubuh suamiku, berusaha
Ketukan pintu membuat kami berdua tersentak.“Permisi…” suara tenang itu milik seorang pria paruh baya—dokter jaga yang biasa memeriksa pasien di ruang ini. Aku buru-buru mendorong dada Abimanyu, dan dia cepat-cepat menjauh, berdiri seolah tak terjadi apa-apa.Wajahku panas.Astaga... Apa yang barusan terjadi? Bibirku masih bergetar. Ciumannya barusan... hangat. Meski aku marah, meski aku sakit hati, tapi... aku tidak bisa membohongi diri sendiri.Aku merindukan pelukan itu. Aku mendambakan belaian itu. Dan celakanya, aku... menikmati ciuman suamiku.Kupalingkan wajah, mencoba menyembunyikan rona yang membakar pipiku.“Aku masih marah,” desisku pelan, tanpa menatapnya.Abimanyu tidak menjawab. Tapi dari sudut mataku, kulihat ia tersenyum kecil. Tersenyum... seolah tahu bahwa dinding yang kubangun dengan susah payah mulai retak. Dan senyum itu membuatku makin kesal—dan makin kacau.“Selamat pagi, Bu Florina,” sapa dokter sambil membaca catatan di tablet kecilnya. “Kondisi Ibu mulai mem
POV Florina.Aku benci dia...Benci pada cara dia menyebut namaku seolah tak ada yang salah di antara kami. Benci pada ketenangan suaranya, saat jiwaku adalah badai tak bernama. Benci pada kelembutannya, yang kini mulai meretas celah-celah hatiku yang retak.Aku benci Om Abimanyu. Tapi... mengapa di dalam dekapannya, aku merasa damai?Mengapa di tengah gelapnya malam yang tak kukenal, dekapan pria itu justru terasa seperti rumah? Entah ini suara hatiku, atau suara halus dari kehidupan mungil yang kini kutitipkan di rahimku.Mungkin ini cinta. Atau sekadar bias dari rasa lelah yang tak pernah kutumpahkan.Atau mungkin... aku hanya terlalu rindu, terlalu rapuh, terlalu ingin dimengerti.Dia mendekatiku, membawa semangkuk bubur yang mulai hangat dengan uap kesabaran.“Pelan-pelan makannya,” katanya, dengan suara serupa gumaman angin sore yang membelai ubun-ubun.Tangannya menggenggam sendok, lalu menyuapik
POV FlorinaAku kira dengan rasa benci bisa melupakannya, tetapi ketika aku mendapat kabar dari Kak Putra jika Om Abimanyu baru saja keluar dari kamar hotel dengan seorang perempuan hatiku terasa sakit. Ternyata cintaku padanya tak sedangkal itu.Dengan penuh tekat, akupun mengirim pesan untuk bercerai.Bahkan tanganku sampai gemetar, ponsel yang aku pegang terjatuh ke lantai. Begini saja aku sudah tidak mampu menanggungnya, apakah selemah ini diriku? Tiba-tiba terdengar bunyi teriakan dari tetangga, aku yang panik segera menghapus air mata dan keluar dari rumah. "Ada apa?" tanyaku heran. Tapi perasaan aku sudah tidak enak. "Mama kamu—masuk rumah sakit!" "Hah? Kok bisa?" pekikku syok."Tadi katanya di warung ada orang yang menghina kamu, mama kamu nggak terima dan akhirnya mereka berantem. Mama kamu lawan tiga loh, walau menang tapi akhirnya pingsan dan banyak luka."Aku langsung meminta bantuan tet
Aku bukan tipe laki-laki yang senang menghabiskan malam di tempat bising dengan lampu kelap-kelip dan dentuman musik. Tapi malam ini, aku membiarkan diriku hanyut dalam kebodohan yang dirancang oleh dua sahabatku—Tian dan Abbas.Abbas akan segera menikah dan pindah ke Bandung bersama ist
Tubuhku masih belum benar-benar pulih. Tapi berdiam diri di rumah justru membuatku lebih sakit dari sekadar demam.Tiap sudut rumah ini penuh dengan bayang-bayangnya. Bayang seorang perempuan yang masih memanggilku “Om” dengan suara lembut tapi menohok, yang diam-diam mengisi seluruh isi
(POV Abimanyu)Jakarta selalu panas seperti biasa, tapi kali ini aku merasa lebih dingin dari kulkas. Bukan karena cuaca. Tapi tidak ada Florina.Ranjang disisiku kosong.Lengan ini kosong.Tidak ada lagi suara manja yang memanggilku. Tidak ada tangan mungil yang menyentuh pipiku saat aku tertidur,
Sesampainya di Jakarta Om Abimanyu mencoba meneleponku tetapi aku tidak mengangkatnya, dia juga tidak pernah absen mengirimkan pesan walaupun tidak pernah aku balas. Entah itu ucapan selamat tidur, selamat pagi, jangan lupa makan, dan kata-kata romantis lainnya.Sudah seminggu ini pula aku terus me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.