Abimanyu masih memelukku erat di bangku taman. Tapi mungkin dia bisa merasakan, meski aku sudah lebih tenang, masih ada kegelisahan yang tertinggal di dalam mataku. Mungkin dia sadar, kalau luka karena prasangka tidak bisa langsung sembuh hanya dengan pelukan dan janji.Dia menghela napas, lalu mengambil ponselnya dari saku. “Kamu masih nggak yakin, ya?” tanyanya lembut.Aku menunduk pelan. Tak ingin menjawab, tapi tak bisa membohongi diri sendiri.Tanpa berkata apa-apa lagi, Abimanyu langsung menelpon seseorang. Dia memencet kontak dan menekan speaker, lalu menatapku sambil berkata, “Dengerin baik-baik, Sayang.”Beberapa detik kemudian terdengar suara wanita di ujung sana.“Halo, Pak Abimanyu?"“Sari,” ucap Abimanyu tegas tapi tenang. “Aku lagi sama istriku. Dia sempat lihat kamu di rumah sakit, dan dia khawatir. Bisa nggak kamu jelaskan sendiri… soal kehamilanmu?”Terdengar suara Sari terkejut. “Ya ampun… aku hamil? Siapa yang bilang begitu?”Abimanyu melirikku sekilas, lalu menjawa
Last Updated : 2026-05-13 Read more