Suara langkah kaki berlarian memenuhi lorong rumah sakit. Pintu UGD terbuka dengan kasar ketika Damara mendorong brankar masuk. Wajahnya tampak tegang, dannmatanya tak lepas dari Anne yang meringkuk kesakitan.“Akh! Sakit sekali.” Anne mencengkeram tangan Damara dengan sangat kuat.“Anne, bertahanlah! Kamu akan baik-baik saja oke.” Damara mengusap rambut Anne dengan panik.Ia membawa Anne ke ruang bersalin.“Perawat, tolong dia! Kontraksinya sangat kuat, dan ketubannya sudah pecah di luar,” ucap Damara cepat pada perawat.“Baik, Tuan.”Anne menggenggam seprai dengan tangan gemetar. Napasnya tersengal, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.“Sakit,” rintihnya. “Leon, tolong aku.”“Nyonya Anne, fokus untuk bernapas,” kata bidan dengan suara tegas tapi menenangkan. “Kami akan bantu.”Anne mengangguk lemah, tapi kontraksi berikutnya datang lebih kuat. Tubuhnya melengkung refleks, dan jeritannya pecah, menggema di ruangan.“Aaakh!”Damara berdiri di sisi kepala Anne sambil t
Last Updated : 2026-01-21 Read more