“Kau? Kenapa di sini?”Anne masih terpaku. Wanita di hadapannya benar-benar seperti bercermin. Wajah itu sama persis dengannya, hanya saja dipenuhi luka. Ada bekas sayatan di pipi, lebam di bawah mata, dan bibir pecah yang belum sembuh sempurna.“Oh, Anne, ternyata kau masih ingat aku ya?” Wanita itu menyeringai mengerikan.“Elle,” suara Anne gemetar.Elle tersenyum miring. Senyumnya dingin dan penuh kebencian.“Akhirnya kita bertemu lagi, adikku,” ucap Elle dengan suara serak.“Kau terlihat baik-baik saja, Anne. Tidak seperti aku yang menyedihkan ini.” Elle menatap dirinya sendiri. Matanya menatap tajam pada Anne dan ia maju selangkah.“Elle, kau … kau mau apa di sini?” Anne mundur satu langkah refleks. Ingatannya langsung kembali pada kekacauan yang dulu terjadi karena wanita ini.“Kau seharusnya masih dipenjara,” ucap Anne pelan dan waspada.Elle tertawa pendek. “Dipenjara?” Ia mendengus. “Leon mengurungku di bawah tanah. Aku disiksa, dipukul, diikat dan hidup tanpa cahaya, tanpa w
Read more