LOGIN(Mature 21+) “Ohh! Sentuh tubuhku lebih dalam, Sayang.” “Nikmat sekali!” Suara des*han panas terdengar memenuhi aula lelang gelap tersebut. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba malam itu Anne diculik dan dijual di sebuah acara lelang. Di tempat itu, takdir mempertemukannya dengan seorang pria kejam bernama Leon yang ternyata merupakan seorang pemimpin klan mafia. Alih-alih hidupnya jadi lebih baik setelah dibeli Leon dari pusat lelang, kehidupan Anne justru semakin menderita. Ia dipaksa menjadi budak Leon. Diminta menuruti hasratnya, dan sering kali mendapat luka karena siksaan dari Leon. Entahlah, tapi pria itu seperti menaruh dendam tersembunyi pada Anne. Siapa Leon Dominic sebenarnya? * "Hidupmu tubuhmu, dan semua yang ada di dirimu hanyalah milikku, Anne Valerie. Kau budakku, dan tugasmu adalah melayaniku." - Leon Dominic. "Kau tidak ada kendali atas diriku, dan aku tidak akan pernah menyerahkan hidupku padamu. " - Anne Valerie.
View More“Ahh, Ohh! Sentuh tubuhku lebih dalam, Sayang.”
“Nikmat sekali!”
Desahan demi desahan terdengar dari segala penjuru aula lelang mewah itu. Bukan desahan yang indah di telinga, melainkan suara rakus, haus, memuakkan, dan penuh nafsu.
Aroma menguar di udara, campuran antara parfum mahal, alkohol, dan cairan tubuh manusia. Kombinasi itu membuat perut Anne Valerie terasa mual.
“Lepaskan aku dari sini! Siapa kalian?” Anne berteriak saat dirinya didudukkan di belakang panggung.
“Melepaskanmu? Itu mustahil. Hahaha!” Suara tawa para pria itu membuat Anne semakin ketakutan, apalagi saat salah satu dari mereka mencengkeram rahangnya untuk membuat Anne meratapnya. “Untuk apa kami susah payah menculikmu kalau hanya untuk melepaskanmu?”
Gadis berusia 25 tahun itu menciut. Air mata sudah membasahi pipinya yang mulus.
Ia sangat takut, karena kini, beberapa pria yang sedang duduk mengitarinya tengah menatapnya dengan liar.
“Lihatlah, gadis ini cantik sekali! Masih perawan pula. Dia pasti akan laku mahal,” ucap pria berbadan besar yang menculiknya kemarin. Suaranya terdengar bangga seolah ia baru saja menemukan berlian.
Pria yang lain pun menimpali sambil menyeringai. Matanya tak henti menatap tubuh molek Anne yang nyaris tak tertutup, dan hanya dibalut sehelai kain tipis tembus pandang di bahunya.
“Benar. Kulitnya pun bersih dan mulus, tubuhnya juga sangat indah. Pria-pria kaya itu pasti akan saling bunuh demi bisa menyentuhnya.”
Anne menggigit bibirnya sampai berdarah. Kedua tangannya terikat di belakang, bahkan pergelangannya membiru akibat tali kasar. Kepalanya masih terasa sedikit berdenyut akibat kejadian tadi malam.
Ia ingat betul bahwa semalam ia masih berada di rumah kosnya yang kecil. Lelah setelah lembur di kafe, ia hanya ingin tidur. Akan tetapi, suara langkah di koridor tiba-tiba terdengar. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba wajahnya sudah ditutup oleh sebuah kain hitam yang menguarkan aroma sangat menyengat hingga membuat Anne pusing dan kehilangan kesadaran.
Setelah tersadar, ia sudah berada di tempat ini. Tempat yang lebih menyeramkan dari mimpi buruk mana pun.
Di sini sebuah tirai beludru merah memisahkannya dari dunia luar. Di balik sana, cahaya lampu kristal bergantung dan suara gelas beradu terdengar jelas. Tiba-tiba seorang pria berjas putih dengan wajah yang terlihat ramah, menyibakkan sedikit tirai itu.
“Lihat baik-baik, Manis. Inilah panggungmu,” bisiknya sambil menyeringai.
Anne memaksa matanya untuk menatap ke luar dan seketika itu ia langsung terbelalak.
Di kursi-kursi mewah yang melingkari panggung, ia melihat orang-orang yang sedang bercinta tanpa rasa malu sedikit pun.
Di pojok ruangan, ada seorang pria yang sedang asyik menjilat paha seorang wanita. Dan di atas panggung, tampak seorang pria tengah dilelang dalam keadaan telanjang. Tubuhnya dirantai, dan merangkak seperti anjing. Ada seorang wanita bertopeng berdiri di belakangnya dengan cambuk di tangan. Senyumnya kejam, tapi begitu liar.
“Ini … tempat macam apa ini?” Suara Anne bergetar ketakutan.
Suara tawa dan tepuk tangan terdengar dimana-mana. Rintihan klimaks bersahutan dengan suara desahan di seluruh ruangan.
“Huek!” Perut Anne terasa mual.
Tempat ini … benar-benar sangat mengerikan!
Tiba-tiba, tirai beludru merah itu disibak kasar. Cahaya lampu sorot menyilaukan matanya. Dua pria berbadan besar dan berpakaian serba hitam, datang mencengkeram lengannya dengan kekuatan yang membuat pergelangannya memutih.
“Cepat ikut!”
“Tidak mau! Tolong!” tangisnya terisak, tapi tenggelam di tengah denting gelas kristal dan musik instrumental yang mengalun dari panggung sebelah.
Tak ada yang peduli padanya.
Anne diseret maju dengan paksa. Tumit sepatunya beradu dengan lantai marmer, napasnya terputus-putus. Dan sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, ia sudah berdiri di tengah panggung besar itu.
Kini ratusan pasang mata menatapnya dengan takjub. Para pria itu terpukau dengan keindahan Anne.
Sepasang mata bening miliknya memantulkan cahaya lampu. Bulu matanya yang lentik dan panjang melengkung sempurna. Kulitnya putih pucat seperti porselen, kontras dengan rambut hitam legam yang jatuh liar di bahunya. Bibirnya merah alami, dan tampak sedikit bergetar.
Ditambah tubuh indahnya yang nyaris tak tertutup dan terlihat begitu seksi, membuat semua pria di ruangan itu merasa ingin memilikinya.
Aula itu hening sejenak.
Sebelum kemudian meledak dengan suara sorakan tak tahu malu dari para pengunjung.
Lalu tak lama, terdengar orang-orang mulai menawarkan harga untuknya.
“Tiga ratus juta!”
“Lima ratus!”
“Enam ratus juta untuk si perawan! Aku akan berpesta dengannya malam ini!”
Tubuh Anne membeku. Air matanya menitik semakin deras.
Angka-angka itu seperti peluru yang meledak satu demi satu di telinganya dan menembus dadanya. Harga dirinya benar-benar hancur, seolah-olah ia bukan manusia, dan hanya barang mewah yang bisa dibeli.
Tangan-tangan pun terangkat. Mata-mata lapar melahap tubuhnya dari ujung rambut hingga jemari kakinya. Seorang pria di barisan depan bersiul panjang, sementara di sisi lain, seorang pria lain mulai membuka resleting celananya. Tangannya bergerak ritmis, wajahnya memerah saat menatap Anne dengan mata penuh hasrat kotor.
Kaki Anne melemas. Tangisnya tergugu, dan tangannya berusaha menutupi anggota tubuh yang terbuka. Ia benar-benar merasa kesulitan untuk bernapas.
“Tolong! Siapa pun, bawa aku pergi dari sini!”
Namun, semua pria di sana hanyalah pria hidung belang yang butuh pelampiasan nafsu. Tak akan ada yang menolong Anne, membuat harapan gadis itu sirna. Sekalipun ada, pasti pria itu tidak jauh beda dari–
“Dua miliar.”
Aula itu mendadak sunyi. Semua menoleh ke asal suara.
Tepat di balkon paling atas, seorang pria berdiri tegap seorang diri. Tubuhnya tinggi kekar. Setiap garis tubuhnya terbingkai rapi oleh jas hitam mewah yang tampak dibuat khusus untuknya. Mata hazelnya menyala di bawah kilau lampu, nampak tajam seperti pisau.
“Dia milikku. Antar ke mansionku setelah ini. Dalam keadaan terikat!” perintah pria itu dengan suara dingin, dan tak menerima penolakan.
Bisik-bisik pun pecah di seantero aula.
“Ya Tuhan, itu .…”
“Itu Leon Dominic, pria yang paling ditakuti di sini!”
Jantung Anne seakan berhenti berdetak. Ia bahkan pernah mendengar namanya.
“Leon Dominic, si penguasa pasar gelap. Pria yang rumor kekejamannya membuat pengusaha besar pun bertekuk lutut.”
---
Beberapa menit kemudian, Anne dibawa turun panggung. Tangannya masih diikat di belakang punggung. Tidak peduli betapa kuatnya Anne melawan, pihak pelelangan jelas lebih kuat dari segi kuasa maupun kekuatan.
Baru setelahnya, ia dibawa menuju ke sebuah mansion mewah milik Leon Dominic.
Lorong menuju ruang pribadi Leon terasa panjang dan sunyi. Lampu gantung kecil di langit-langit memantulkan cahaya hangat, sangat kontras dengan dinginnya udara di sekitar.
Langkah mereka terhenti di depan pintu besar berwarna hitam pekat, dengan ukiran halus di bingkainya. Seorang pengawal menekan interkom.
“Kami datang. Membawa gadisnya.”
Tak lama pintu besar itu pun terbuka perlahan.
Udara hangat menyeruak, menyapu kulit Anne yang dingin. Aroma maskulin yang pekat menusuk hidung. Campuran asap cerutu mahal, kayu cedar, dan sesuatu yang samar-samar–
Aroma seks!
“Masuk!” Suara pria itu begitu dalam dan penuh kuasa.
Anne melangkah masuk dengan kaki gemetar.
Begitu tiba di dalam ruangan, ia melihat Leon Dominic duduk di kursi besar yang menghadapnya. Kakinya terbuka lebar. Tubuh tegapnya tampak begitu santai. Satu tangan menggenggam gelas berisi cairan amber berkilau, sedangkan satu tangan lain menyentuh bibirnya seolah sedang menilai sesuatu. Matanya tak pernah lepas dari tubuh Anneyang tampak polos, tapi juga seksi.
“Tutup pintunya. Biarkan dia sendiri bersamaku.”
“Baik, Tuan!”
Klik!
Pintu tertutup rapat, hilang sudah jalan keluar Anne.
Gadis itu berdiri ketakutan di hadapan Leon. Tangannya yang sudah dilepaskan kini terkulai di sisi tubuhnya, meremas gaun tipis transparan yang nyaris tidak bisa menutupi tubuhnya.
Tubuh setengah telanjangnya masih tak bisa membuat mata Leon berkedip.
“Tuan, aku–”
“Buka bajumu!”
Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung menyala satu per satu, tapi di dalam ruang rapat bawah tanah milik Klan Dominic, suasana jauh dari tenang.Leon berdiri di ujung meja panjang, kedua telapak tangannya menekan permukaan kayu gelap. Wajahnya serius, rahangnya mengeras. Di sekelilingnya ada Jonathan, Adrian, Dev, dan beberapa orang kepercayaannya. Layar besar di dinding menampilkan data keuangan dan jalur distribusi yang berantakan.“Ini bukan kebetulan,” kata Leon rendah. “Seseorang sengaja memotong jalur kita dari dalam.”Dev mengangguk. “Gudang di Marseille disabotase. Kontainer diganti. Informasi internal bocor.”“Musuh lama?” Jonathan mengepalkan tangan.“Bukan,” jawab Leon cepat. “Ini pemain baru. Tapi mereka punya dukungan besar.”Hari-hari berikutnya dipenuhi ketegangan. Serangan kecil terjadi di berbagai titik. Bukan frontal, tapi cukup untuk mengganggu alur bisnis. Beberapa anak buah terluka, jalur suplai terputus, dan kepercayaan mitra mulai goyah.Leon tur
Pagi itu, matahari bersinar lembut di atas mansion Dominic. Tidak menyilaukan dan tidak terik seolah ikut menghormati hari yang istimewa. Udara terasa ringan, membawa aroma bunga yang sejak subuh sudah disusun rapi di mobil-mobil pengiring.Beberapa bulan telah berlalu sejak kelahiran Baby Victor. Waktu berjalan tanpa terasa, meninggalkan jejak perubahan besar dalam hidup Anne dan Leon. Rumah yang dulu sunyi dan kaku kini hidup oleh suara tawa bayi, langkah-langkah kecil yang tergesa, dan obrolan ringan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.Valerie berdiri di depan koper besarnya pagi itu, sambil memeluk Anne erat-erat.“Jaga dirimu ya, Sayang,” ucap Valerie lembut. “Dan jaga Victor juga.”Anne mengangguk, matanya berkaca-kaca.“Mama juga. Hati-hati di Jerman.”Valerie tersenyum, lalu menatap Leon. “Kau sudah berubah, Leon. Sekarang aku sudah tenang meninggalkan mereka di tanganmu.”“Aku janji, Ma.” Leon mengangguk hormat.Hari itu Valerie kembali ke Jerman ke rumah orang tuany
Hari-hari di mansion Dominic perlahan berubah. Tempat itu tidak lagi dipenuhi suara tembakan, teriakan, atau rapat gelap di ruang bawah tanah. Kini suara paling sering terdengar justru tangisan bayi, tawa kecil, dan langkah-langkah tergesa para orang dewasa yang masih belajar menjadi orang tua.Anne duduk di sofa ruang keluarga sambil menggendong baby Victor. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih sedikit pucat, tapi matanya berbinar setiap kali menatap putranya. Victor menggeliat kecil, wajahnya merah dan tangannya mengepal lucu.“Leon,” panggil Anne pelan. “Sepertinya dia mau pup.”Leon yang sedang berdiri di dekat jendela langsung menoleh dengan wajah panik.“Hah? Sekarang?” tanyanya gugup. “Aku baru ganti popoknya sepuluh menit lalu.”Anne mengangkat bahu. “Namanya juga bayi.”Leon menghela napas panjang, lalu mendekat. Ia menatap Victor seolah sedang berhadapan dengan musuh besar.“Oke, Nak,” gumam Leon. “Kita hadapi ini bersama.”Beberapa menit kemudian, Leon berdiri kaku di kama
Damara tak langsung menyalakan mesin mobilnya setelah meninggalkan gerbang mansion Dominic. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya pelan tapi kejam.Ia tahu bahwa momen itu akan datang. Ia tahu sejak awal bahwa kebahagiaan Anne bukan bersamanya. Namun melihatnya secara langsung tetap saja menyakitkan.Melihat Leon menggendong Anne. Melihat senyum Anne yang tulus, dan melihat ciuman singkat itu. Semua terasa seperti pukulan telak yang memaksanya mengakui kenyataan.Damara memejamkan mata, lalu menarik napas panjang. Ia menunduk, menyeka sisa air mata yang tak sempat jatuh sempurna.“Semua sudah selesai,” gumamnya lirih pada diri sendiri.Ia menyalakan mesin dan melajukan mobil menjauh. Jalanan terasa panjang dan sunyi. Tak ada musik, tak ada suara, hanya pikirannya sendiri yang berisik.Beberapa jam kemudian, Damara tiba di sebuah bandara pribadi. Sebuah jet sudah menunggunya di landasan. Para staf menyambut dengan membungkuk hormat, tetapi Dama
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore