Viola tersentak gugup. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru menyelipkan seluruh surat itu ke balik sprei tempat tidurnya.“Viola! Kenapa kau lama sekali! Buka pintunya!” teriak Steven dari balik pintu. Suaranya kasar, tak sabar.Viola menarik napas dalam sebelum akhirnya membuka pintu. Wajahnya tampak lesu—bukan karena kelaparan, melainkan karena rahasia kelam suaminya yang baru saja ia ketahui.“Kenapa kau mengunci pintu?” Steven menatapnya curiga. Matanya bergerak liar, menyapu seluruh isi kamar, memastikan tak ada siapa pun selain Viola di sana.“A-aku baru saja selesai mandi,” jawab Viola. Ia memang tak pandai berbohong—dan itu langsung terlihat.“Kau mandi?” Steven meraih rambut istrinya. Rambut itu terasa kering, tak ada sedikit pun lembap. “Kau mulai belajar berbohong padaku?”Viola menahan sakit di kulit kepalanya. “Aku tidak berbohong. Aku hanya malas bertemu denganmu.” Ia menguatkan diri, lalu menambahkan, “Kau selalu me
Read more