“Edward…” panggilnya lirih. “Kenapa rasanya… aku pernah di tempat lain, dengan seseorang yang… sama sekali bukan kamu.”Edward terdiam. Satu detik, dua, tiga—hening total, bahkan suara mesin jet terasa jauh. Ia menahan napas, rahangnya mengeras, dan tangan yang tadi menenangkan di pinggang Ophelia kini menggenggam sedikit lebih erat.“Tidak,” ucapnya tegas, meski nada suaranya masih lembut. “Kamu tidak pernah di mana pun. Kamu hanya di sini. Dengan saya.”Ophelia menunduk, bibirnya bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi Edward sudah lebih dulu bergerak. Ia berbalik sedikit, memaksa Ophelia menghadapnya. Dalam cahaya temaram itu, mata birunya terlihat gelap, seperti samudra di malam hari—dalam dan menakutkan sekaligus memikat.Ophelia menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya—antara ketakutan dan sesuatu yang jauh lebih dalam: pengakuan yang belum siap keluar. “Edward…”“Ssh,” bisiknya lembut. Jarinya menelusuri rahang Ophelia perlahan, lalu berhenti di lehernya—tepat di at
آخر تحديث : 2025-10-21 اقرأ المزيد