Edward berdiri di tepi ranjang, dada bidangnya naik-turun dengan napas berat, sementara sorot matanya tak pernah lepas dari tubuh mungil Ophelia yang kini meringkuk di tengah ranjang. Rambutnya berantakan, bibirnya bengkak, leher dan bahunya penuh bekas merah yang Edward tinggalkan dengan sengaja, bukti bahwa Ophelia adalah miliknya.Bibir Edward melengkung tipis, senyum puas bercampur gelap. “Begitu cantik…” suaranya serak rendah, nyaris seperti erangan yang tertahan. “Bahkan saat menangis pun, kamu tetap mempesona di mata saya, Amor.”Ophelia memalingkan wajahnya, air mata masih menetes, tubuhnya masih bergetar antara marah dan takut. Namun Edward bisa melihat dengan jelas, dari cara dadanya naik turun, dari caranya memeluk tubuhnya sendiri, bahwa setiap sentuhannya tadi masih tertinggal di kulit dan ingatan perempuan itu.Dengan tenang, Edward mengambil selimut hitam tebal di sisi ranjang. Perlahan, ia menariknya, menutupi tubuh Ophelia. Gerakannya penuh kontras, setelah begitu kas
آخر تحديث : 2025-10-01 اقرأ المزيد