“Coba, Sayang.” Samudra menyendokkan sedikit coklat dan menyentuhkan sendok itu ke bibir Evelyn. Gerakan yang manis, menggoda, nyaris berlebihan.Evelyn menahan napas sepersekian detik, lalu membuka mulutnya, menerima suapan itu. Mata hazelnya menatap Samudra, bukan Dirga. Karena jika ia menatap Dirga sekarang, kendalinya mungkin runtuh.“Enak?” Tanya Samudra lirih.“Manis,” jawab Evelyn pendek.Dirga menyendok dessert miliknya sendiri, matanya jatuh pada piring Evelyn. Ia tahu persis: kombinasi rasa itu, susunan buah, bahkan garis saus di tepian piring. Dulu, itu adalah menu yang ia rancang sendiri, untuk seseorang yang kini duduk di hadapannya dengan status berbeda.Evelyn menunduk, menatap pantulan dirinya di kilau sendok. “Sangat cocok dinikmati bersama kopi Americano,” selorohnya datar, mencoba mengimbangi suasana.“Kau masih suka membaca, Evelyn?” tanya Dirga spontan.Pertanyaan sederhana itu menusuk lebih dalam daripada semua candaan dan sindiran sebelumnya.“Kadang,” jawab Eve
Last Updated : 2026-01-08 Read more