MasukButik masih sepi siang itu. Ajeng berdiri di balik meja resepsionis, membolak-balik buku catatan kecil sambil sesekali melirik etalase depan. Pendingin ruangan berdengung pelan, membuat suasana terasa lengang. Ia baru saja merapikan gantungan baju ketika pintu kaca terbuka perlahan. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah tenang. Setelan rapi, wajahnya tenang tapi tatapannya terlalu awas untuk sekadar pelanggan biasa. Ajeng menoleh, refleks memasang senyum sopan. “Selamat siang, Pak. Silakan,” ucapnya sambil sedikit menunduk. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menatap sekeliling butik sebentar, lalu kembali menatap Ajeng. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum ramah, lebih seperti senyum orang yang merasa sudah tahu sesuatu. “Saya cari Ajeng,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan datar. Ajeng terdiam sepersekian detik. Tangannya yang semula memegang hanger berhenti di udara. “Saya Ajeng, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Pria itu mengangguk pelan, lalu melang
Luki diam beberapa detik, menimbang semua penjelasan Sarah yang barusan ia terima. Kepalanya penuh, tapi justru di situ muncul satu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal. Ia menoleh, menatap Sarah yang masih memegang cangkir kopi dengan kedua tangan. “Apa rencana Tante selanjutnya?” “Setelah semua ini kebuka?” “Luki pengin tahu, Tante mau ke mana melangkah.” Sarah tidak langsung menjawab. Ia menghela napas, seolah membuka lembaran rencana yang selama ini hanya ia simpan sendiri. Nada suaranya turun, lebih serius dari sebelumnya. “Sebenernya aku sempat punya rencana lain,” ucapnya. “Aku mau ngeluarin papah kamu.” “Terus ngajak kamu sama Ajeng tinggal bareng aku.” Luki terkejut, alisnya langsung terangkat. Ia tidak menyangka nama papahnya akan muncul dalam konteks seperti itu. Sarah lalu melanjutkan tanpa jeda panjang. “Tapi papah kamu nolak.” “Dia milih habisin sisa hukumannya.” “Masih delapan tahun.” “Kenapa?” “Kenapa nolak kesempatan keluar?” “
Luki menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Rasa penasaran yang sejak tadi ia tahan akhirnya menekan dadanya sendiri. Tatapannya naik ke wajah Tante Sarah yang terlihat jauh lebih tenang darinya. Ia mengusap bibir cangkir kopi dengan ibu jarinya. Napasnya terdengar lebih berat ketika ia akhirnya membuka suara. Ada sesuatu yang jelas tidak sederhana dari semua ini. Luki mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya menatap Sarah tanpa berkedip. Ia tahu, jawaban setelah ini akan mengubah banyak hal. “Tan,” suara Luki terdengar lebih pelan dari biasanya, “sebenernya apa sih yang mereka incar?” “Apa yang bikin Gunawan sama Peter segitunya?” “Kenapa sampai sejauh ini?” Sarah tidak langsung menjawab. Ia bersandar, lalu menghela napas panjang seolah sedang menimbang seberapa banyak yang boleh ia buka. Tangannya meraih cangkir kopi, tapi tak langsung diminum. Sarah meletakkan kembali cangkir itu. Wajahnya berubah lebih serius, tidak ada senyum sama sekali. Nada s
Lampu kamar masih redup, tirainya setengah tertutup, menyisakan cahaya malam yang tipis masuk ke ruangan. Luki berbaring telentang, napasnya sudah kembali teratur, sementara Tante Sarah menyandarkan kepala di dadanya. Suasana tenang itu terasa berbeda, bukan lagi soal hasrat, melainkan sisa kehangatan yang belum ingin dilepas. Sarah menarik selimut sedikit lebih tinggi, menutup bahu mereka berdua. Tangannya bergerak pelan, sekadar menelusuri dada Luki, gestur kecil yang lebih mirip kebiasaan daripada godaan. Luki menoleh ke samping, menatap wajah Sarah yang terlihat lebih lembut dari biasanya. “Kamu mikirin apa, Sayang?” tanya Sarah pelan, suaranya nyaris berbisik. Luki tersenyum tipis. “Biasa, Tan.” Sarah mengangkat wajahnya sedikit, dagunya bertumpu di dada Luki. Ia menatap mata Luki, mencoba membaca arah pikirannya. “Kepikiran mamahmu?” tanyanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan. Luki mengangguk pelan. “Iya. Sekarang mamah udah bebas, rasanya a
Setelah percakapan itu mereda, Luki melirik jam tangannya. Jarum sudah bergerak melewati waktu makan siang, dan pikirannya otomatis kembali ke tumpukan pekerjaan yang menunggu di kantor. Ia menarik napas pelan, lalu berdiri. “Mah,” ucap Luki sambil menatap Maria, suaranya ditahan agar tetap tenang, “Luki izin pamit dulu. Masih harus balik ke kantor, ada kerjaan yang belum beres.” Maria mendongak. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya langsung menangkap kegelisahan di wajah anaknya. “Kamu nggak bisa sedikit lebih lama?” tanya Maria pelan. “Baru juga ketemu…” Luki tersenyum tipis. Tangannya terangkat, menyentuh lengan Maria sekilas, memberi isyarat yang lebih menenangkan daripada kata-kata. “Nanti Luki ke sini lagi, Mah,” katanya. “Sekarang mamah istirahat dulu aja. Jangan mikirin apa-apa.” Om Iksan melangkah mendekat. “Biar Om yang urus semuanya di sini,” ujar Iksan. “Kamu fokus kerja aja, Luk.” Luki mengangguk. Ia tahu Om Iksan tidak sedang menawarkan,
Hari-hari berjalan seperti biasa bagi Luki. Ia tetap bangun pagi, berangkat kerja, dan menempatkan pikirannya pada ritme kantor yang menuntut fokus penuh. Masalah keluarga dan nama-nama besar yang berseliweran di kepalanya ia simpan rapat, cukup jadi bayangan yang tak ia biarkan mengganggu langkah. Di kantor, Luki tetap menjadi asisten pribadi Gladys. Ia mengatur jadwal, menyiapkan berkas rapat, memastikan semua berjalan rapi sebelum Gladys melangkah masuk ruang meeting. Rutinitas itu memberinya jeda, seolah dunia di luar kantor berhenti berisik ketika ia tenggelam dalam pekerjaan. Sementara itu, Ajeng mulai benar-benar sibuk dengan butiknya. Hari-harinya diisi dengan belajar, mengamati, dan menyesuaikan diri bersama Tante Sarah dan Mbak Marni. Ia pulang dengan cerita-cerita kecil yang terdengar remeh, tapi cukup membuat rumah terasa hidup. “Capek gak Mbak, kerjanya?” tanya Luki suatu malam sambil meletakkan tas kerjanya. “Lumayan, Luk,” jawab Ajeng sambil melepas jam tanga







