"Kalau begitu, aku akan bicara langsung," kata Roland. "Putriku sangat mengagumi kemampuan medismu dan ingin berguru padamu!""Eh?" Ryan langsung mengernyit."Pak Ryan, putriku itu rajin, suka belajar, dan juga cerdas ....""Sebentar!" potong Ryan. "Ngomong soal putrimu, aku meneleponmu justru karena dia.""Hah?" Nada suara Roland terdengar berubah, menjadi sedikit waspada. "Pak Ryan ... ada apa dengan Wency?"Ryan menceritakan soal Wency yang diam-diam merekam dan mengunggah video, lalu berkata dengan kesal, "Itu sudah melanggar privasiku!""Pak Ryan, jangan marah dulu. Aku pasti akan menegurnya habis-habisan dan menyuruhnya menghapus videonya," ujar Roland. "Dan juga ... kalau boleh, beri aku kesempatan. Aku akan menyuruh dia meminta maaf langsung kepadamu.""Nanti saja kita bicarakan," kata Ryan. Dia tidak butuh hal-hal formal seperti itu. "Yang penting, hapus dulu videonya.""Baik!" sahut Roland."Dan satu lagi, aku nggak menerima murid," ujar Ryan."Hah?"Tut ... tut ... tut ....
Read more