"Ah! Kalau begitu, aku bereskan sofa saja!"Vania tersadar dan merasa sangat canggung, lalu buru-buru merespons, "Oh!"Ryan melepaskan tangannya, menggaruk belakang kepala, lalu lanjut memungut botol-botol bir. Keduanya bekerja sama. Setelah lebih dari satu jam, akhirnya rumah itu kembali bersih."Ryan, bajumu kotor karena aku. Kasih ke aku saja, sekalian aku cuci," kata Vania.Sebelumnya kemeja Ryan terkena lipstiknya dan sekarang karena membantu membereskan rumah, juga terkena noda lain. Dia merasa tidak enak hati."Nggak perlu, Bu Vania ... eh, Kak Vania," kata Ryan. "Aku pulang saja dan cuci pakai mesin.""Noda lipstik nggak bisa hilang dengan mesin cuci, harus dicuci tangan," jelas Vania sambil membantu membuka kancing kemejanya. "Biar aku saja yang mencucinya!"Melihat Vania begitu bersemangat, Ryan sulit menolak. "Baiklah, biar aku lepas sendiri."Ryan melepas kemejanya. Di dalam, dia mengenakan kaus dalam putih tanpa lengan. Dada bidang dan lengannya yang kekar terlihat jelas.
Magbasa pa