Pemilik rumah buru-buru bangkit, menyentuh pantatnya. Terasa basah dan licin. "Apa ini?"Vania malu sekali. Dia menggigit bibirnya dan menjelaskan, "Tadi ... nggak sengaja menumpahkan sup!""Sup apa? Kok licin begini?""Supnya direbus pakai banyak ubi." Vania terus mengarang."Oh! Oh!" Pemilik rumah berdiri, menggosok pantatnya, bahkan sempat mencicipinya. "Hmm, agak asin, rasanya lumayan juga."Vania benar-benar pasrah melihat pemandangan itu. "Kak, besok aku mau cuci baju, celanamu lepas saja, besok sekalian aku bantu cuci.""Nggak usah, aku cuci sendiri saja." Pemilik rumah berjalan keluar dengan santai sambil mengecap-ngecapkan bibir. Kemudian, dia berkata, "Rasanya masih kurang sedikit, arak kuningnya kebanyakan ya?""Oh, mungkin!" kata Vania dengan canggung."Kakakmu ini jago sekali soal masak sup!""Ya, ya, tahu kok. Lain kali pasti belajar yang benar darimu!"Akhirnya setelah mengantar pergi kakak pemilik rumah pergi, Vania menghela napas panjang dan kembali ke kamar tidur. Pin
Ler mais