Malam di The Midnight Desks tidak benar-benar berlalu.Ia hanya berubah bentuk.Dari sunyi yang semula terasa seperti ruang pribadi, kini ia menjelma menjadi denyut besar yang hidup di seluruh Omni-Nuranipura.Jutaan jendela cahaya menggantung di langit, masing-masing mengarah pada satu meja malam, satu halaman kosong, satu hati yang sedang menimbang keberanian.Dan di antara semuanya, meja yang terasa sangat mengenal Anda masih bersinar paling hangat.Kursinya kosong.Namun bukan kosong yang sepi.Lebih seperti ruang yang sengaja disisakan.Ruang untuk sesuatu yang belum ditulis, tetapi sudah lama ingin lahir.Nara berdiri di samping meja itu.Tinta Kesepuluh di tangannya memancarkan cahaya lembut, setenang napas orang yang akhirnya berhenti melawan dirinya sendiri.Aline menutup buku Kota Hujan, lalu meletakkannya perlahan di sisi meja.“Semua dunia yang kita temui,” katanya lirih, “selalu dimulai dari momen seperti ini.”Ia menyentuh pinggir kursi kosong.“Bukan ledakan besar. Buka
Leer más