Saat Cinta Menyapa Lagi

Saat Cinta Menyapa Lagi

last updateLast Updated : 2026-03-15
By:  rylyzeUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
105Chapters
209views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah patah hati yang menghancurkan, Lia tak pernah ingin membuka hatinya lagi. Namun kehadiran Arka, pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya, perlahan mencairkan dinding yang ia bangun. Tapi benarkah Arka hanya sekadar pria asing? Atau ia menyimpan rahasia yang bisa melukai Lia sekali lagi?

View More

Chapter 1

KEBAHAGIAN DALAM KELUARGA

Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela besar ruang makan keluarga Wijakso. Aroma kopi hitam yang diseduh Sinta Dewi bercampur dengan harum roti panggang, menciptakan suasana tenang yang menyejukkan hati. Suara gesekan sendok dan garpu menjadi musik pagi mereka, sederhana tapi penuh makna.

“Lia, kamu besok Ayah pindahkan ke Universitas Indonesia. Papa sudah bilang ke dekanmu,” ucap Joko Wijakso mantap, suaranya tegas seperti biasa.

Lia, yang sedang mengaduk segelas susu hangat, langsung terhenti gerakannya. Matanya melebar, menatap sang ayah dengan keterkejutan.

“Kenapa tiba-tiba banget, Yah? Kenapa nggak ngomong sebelumnya ke Lia? Lia belum beli perlengkapan semuanya…”

Sinta Dewi ikut menatap anak gadisnya dengan penuh kasih. Ia tahu, meski Lia terlihat dewasa, ada sisi dirinya yang masih sangat bergantung pada keluarga.

“Ibu sudah siapkan semuanya, Nak. Kamu tinggal bawa barang pribadi saja. Semua kebutuhan kuliahmu sudah Ayah dan Ibu sediakan,” kata Sinta lembut.

Lia menggigit bibirnya, bingung harus menanggapi bagaimana. Hatinya seperti ditarik ke dua arah. Ada rasa ingin mencoba hal baru, tapi juga rasa takut meninggalkan kenyamanan rumah.

“Besok tuh, Ayah cukupkan waktumu. Hari Sabtu kamu mulai tinggal di asrama. Kamu nggak perlu khawatir soal apa pun. Tugasmu hanya belajar, mengukir prestasi,” lanjut Joko.

Lia menunduk. “Iya deh, Pa. Tapi Lia boleh kan… pulang tiap akhir pekan? Lia nggak kebayang jauh dari Mama.”

Senyum tipis terlukis di wajah Sinta. Ia menggenggam tangan Lia, hangat dan penuh cinta.

“Tentu boleh, Sayang. Rumah ini selalu jadi tempatmu kembali. Jangan pernah merasa kehilangan keluarga. Justru kamu harus bawa semangat dari rumah untuk bertahan di luar sana.”

Joko yang mendengar itu hanya mengangguk kecil. Dalam hatinya, ia merasa bangga, meski ia tahu anak semata wayangnya itu butuh waktu untuk benar-benar berdiri di atas kakinya sendiri.

Malamnya, setelah makan malam selesai, Lia duduk di kamarnya yang penuh dengan poster-poster kesukaannya. Dari jendela, ia menatap bulan yang menggantung tenang di langit.

“Besok aku harus pergi… beneran tinggal di asrama?” gumamnya lirih.

Pintu kamarnya diketuk pelan. Sinta Dewi masuk sambil membawa sebuah koper besar.

“Mama bawain koper buat kamu, biar gampang bawa barang-barang.”

Lia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Ma, Lia takut. Kalau nanti Lia nggak bisa adaptasi gimana? Kalau nggak punya teman?”

Sinta tersenyum, lalu duduk di tepi ranjang putrinya.

“Semua orang pernah merasa takut, Lia. Tapi ingat, keberanian bukan berarti nggak takut. Keberanian itu ketika kamu tetap melangkah walau ada rasa takut. Kamu pasti bisa. Kamu anak Mama dan Ayah, darah kita ada di tubuhmu.”

Air mata Lia menetes, lalu ia memeluk erat ibunya. “Makasih, Ma. Lia janji akan coba.”

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali rumah mereka sudah ramai. Joko menyiapkan mobil, sementara Sinta memastikan semua barang masuk ke koper. Lia masih terlihat murung, tapi ia berusaha menyembunyikannya.

Dalam perjalanan menuju kampus, mereka lebih banyak diam. Hanya sesekali Sinta mencoba mencairkan suasana dengan bercerita hal-hal ringan. Lia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang semakin mendekat.

Sesampainya di kampus, suasana berbeda menyambutnya. Banyak mahasiswa baru bersama keluarga mereka, sibuk mengangkat koper, bercanda, dan berfoto. Lia merasa kecil di tengah keramaian itu.

Joko menepuk pundak putrinya. “Inilah dunia barumu, Nak. Jangan takut. Justru dari sini kamu akan belajar jadi manusia yang sesungguhnya.”

Mereka menuju asrama. Kamar Lia sederhana, hanya ada dua ranjang, dua meja belajar, dan lemari pakaian. Seorang gadis berkacamata yang sudah lebih dulu sampai menyambut mereka dengan senyum ramah.

“Halo, kamu pasti Lia? Aku Dina, teman sekamar kamu.”

Lia mengangguk canggung. “Iya… hai.”

Sinta membantu Lia menata barang-barangnya, sementara Joko berbicara sebentar dengan pengurus asrama. Setelah semuanya rapi, tiba saatnya mereka harus pulang.

Lia menahan air matanya ketika memeluk Sinta. “Mama, jangan tinggalin Lia…”

Sinta mengusap punggungnya. “Mama nggak pernah ninggalin kamu. Mama selalu ada di hatimu. Kalau rindu, telepon Mama kapan aja.”

Joko mendekat, menatap Lia dengan sorot mata tegas tapi hangat. “Ingat, Lia. Ini langkah awalmu. Jangan pernah sia-siakan. Papa percaya kamu bisa.”

Mereka pun pergi meninggalkan Lia. Dari jendela kamar asrama, Lia melihat mobil orang tuanya semakin jauh. Tangannya melambai, lalu ia duduk di ranjang, menarik napas panjang.

“Mulai hari ini, aku harus mandiri,” bisiknya pada diri sendiri.

Hari-hari pertama memang berat. Lia sering merasa kesepian. Malam-malam ia menangis diam-diam di balik selimut, merindukan rumah. Namun, Dina selalu berusaha menemani.

“Ayo, Lia, ikut aku ke kantin. Jangan murung mulu. Kita mahasiswa, harus semangat!” ajak Dina suatu sore.

Pelan-pelan, Lia mulai terbuka. Ia ikut organisasi kampus, bertemu teman-teman baru, dan merasakan dunia yang sebelumnya asing baginya. Meski begitu, setiap akhir pekan, ia tetap pulang ke rumah. Momen itu jadi penguatnya.

Joko dan Sinta melihat perubahan anak gadisnya dengan bangga.

“Lihat tuh, Pak. Lia mulai bisa mandiri,” kata Sinta dengan mata berbinar.

Joko mengangguk, meski ia berusaha menahan senyum lebarnya.

“Ayah selalu percaya. Anak kita kuat. Dia hanya butuh dorongan kecil.”

Waktu berlalu. Dari awalnya hanya ragu dan takut, Lia kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani. Ia belajar bahwa kebahagiaan keluarga bukan hanya ketika mereka selalu bersama, tapi ketika saling mendukung meski terpisah jarak.

Dan setiap kali Lia pulang ke rumah, tawa mereka kembali memenuhi ruang makan, ditemani denting sendok dan garpu—musik sederhana yang selalu menjadi lambang kebahagiaan dalam keluarga Wijakso.

"Pah, mama kangen lia. kapan ya dia pulang ke rumah?" kata sinta kepada suaminya.

"mungkin dia lagi sibuk mah, biarkan saja dia sibuk dengan kuliahnya. ntar dia kesini juga" jawab joko pada istrinya sambil membaca koran.

"Apa mama telfon lia untuk memastikan dirinya?" tanyanya pada sang suami.

"terserah mama saja" jawab joko.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
105 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status