LOGINSetelah patah hati yang menghancurkan, Lia tak pernah ingin membuka hatinya lagi. Namun kehadiran Arka, pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya, perlahan mencairkan dinding yang ia bangun. Tapi benarkah Arka hanya sekadar pria asing? Atau ia menyimpan rahasia yang bisa melukai Lia sekali lagi?
View MorePagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela besar ruang makan keluarga Wijakso. Aroma kopi hitam yang diseduh Sinta Dewi bercampur dengan harum roti panggang, menciptakan suasana tenang yang menyejukkan hati. Suara gesekan sendok dan garpu menjadi musik pagi mereka, sederhana tapi penuh makna.
“Lia, kamu besok Ayah pindahkan ke Universitas Indonesia. Papa sudah bilang ke dekanmu,” ucap Joko Wijakso mantap, suaranya tegas seperti biasa.
Lia, yang sedang mengaduk segelas susu hangat, langsung terhenti gerakannya. Matanya melebar, menatap sang ayah dengan keterkejutan.
Sinta Dewi ikut menatap anak gadisnya dengan penuh kasih. Ia tahu, meski Lia terlihat dewasa, ada sisi dirinya yang masih sangat bergantung pada keluarga.
“Ibu sudah siapkan semuanya, Nak. Kamu tinggal bawa barang pribadi saja. Semua kebutuhan kuliahmu sudah Ayah dan Ibu sediakan,” kata Sinta lembut.
Lia menggigit bibirnya, bingung harus menanggapi bagaimana. Hatinya seperti ditarik ke dua arah. Ada rasa ingin mencoba hal baru, tapi juga rasa takut meninggalkan kenyamanan rumah.
“Besok tuh, Ayah cukupkan waktumu. Hari Sabtu kamu mulai tinggal di asrama. Kamu nggak perlu khawatir soal apa pun. Tugasmu hanya belajar, mengukir prestasi,” lanjut Joko.
Lia menunduk. “Iya deh, Pa. Tapi Lia boleh kan… pulang tiap akhir pekan? Lia nggak kebayang jauh dari Mama.”
Senyum tipis terlukis di wajah Sinta. Ia menggenggam tangan Lia, hangat dan penuh cinta.
Joko yang mendengar itu hanya mengangguk kecil. Dalam hatinya, ia merasa bangga, meski ia tahu anak semata wayangnya itu butuh waktu untuk benar-benar berdiri di atas kakinya sendiri.
Malamnya, setelah makan malam selesai, Lia duduk di kamarnya yang penuh dengan poster-poster kesukaannya. Dari jendela, ia menatap bulan yang menggantung tenang di langit.
“Besok aku harus pergi… beneran tinggal di asrama?” gumamnya lirih.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Sinta Dewi masuk sambil membawa sebuah koper besar.
Lia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Ma, Lia takut. Kalau nanti Lia nggak bisa adaptasi gimana? Kalau nggak punya teman?”
Sinta tersenyum, lalu duduk di tepi ranjang putrinya.
Air mata Lia menetes, lalu ia memeluk erat ibunya. “Makasih, Ma. Lia janji akan coba.”
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali rumah mereka sudah ramai. Joko menyiapkan mobil, sementara Sinta memastikan semua barang masuk ke koper. Lia masih terlihat murung, tapi ia berusaha menyembunyikannya.
Dalam perjalanan menuju kampus, mereka lebih banyak diam. Hanya sesekali Sinta mencoba mencairkan suasana dengan bercerita hal-hal ringan. Lia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang semakin mendekat.
Sesampainya di kampus, suasana berbeda menyambutnya. Banyak mahasiswa baru bersama keluarga mereka, sibuk mengangkat koper, bercanda, dan berfoto. Lia merasa kecil di tengah keramaian itu.
Joko menepuk pundak putrinya. “Inilah dunia barumu, Nak. Jangan takut. Justru dari sini kamu akan belajar jadi manusia yang sesungguhnya.”
Mereka menuju asrama. Kamar Lia sederhana, hanya ada dua ranjang, dua meja belajar, dan lemari pakaian. Seorang gadis berkacamata yang sudah lebih dulu sampai menyambut mereka dengan senyum ramah.
“Halo, kamu pasti Lia? Aku Dina, teman sekamar kamu.”
Lia mengangguk canggung. “Iya… hai.”
Sinta membantu Lia menata barang-barangnya, sementara Joko berbicara sebentar dengan pengurus asrama. Setelah semuanya rapi, tiba saatnya mereka harus pulang.
Lia menahan air matanya ketika memeluk Sinta. “Mama, jangan tinggalin Lia…”
Sinta mengusap punggungnya. “Mama nggak pernah ninggalin kamu. Mama selalu ada di hatimu. Kalau rindu, telepon Mama kapan aja.”
Joko mendekat, menatap Lia dengan sorot mata tegas tapi hangat. “Ingat, Lia. Ini langkah awalmu. Jangan pernah sia-siakan. Papa percaya kamu bisa.”
Mereka pun pergi meninggalkan Lia. Dari jendela kamar asrama, Lia melihat mobil orang tuanya semakin jauh. Tangannya melambai, lalu ia duduk di ranjang, menarik napas panjang.
“Mulai hari ini, aku harus mandiri,” bisiknya pada diri sendiri.
Hari-hari pertama memang berat. Lia sering merasa kesepian. Malam-malam ia menangis diam-diam di balik selimut, merindukan rumah. Namun, Dina selalu berusaha menemani.
“Ayo, Lia, ikut aku ke kantin. Jangan murung mulu. Kita mahasiswa, harus semangat!” ajak Dina suatu sore.
Pelan-pelan, Lia mulai terbuka. Ia ikut organisasi kampus, bertemu teman-teman baru, dan merasakan dunia yang sebelumnya asing baginya. Meski begitu, setiap akhir pekan, ia tetap pulang ke rumah. Momen itu jadi penguatnya.
Joko dan Sinta melihat perubahan anak gadisnya dengan bangga.
Joko mengangguk, meski ia berusaha menahan senyum lebarnya.
Waktu berlalu. Dari awalnya hanya ragu dan takut, Lia kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani. Ia belajar bahwa kebahagiaan keluarga bukan hanya ketika mereka selalu bersama, tapi ketika saling mendukung meski terpisah jarak.
Dan setiap kali Lia pulang ke rumah, tawa mereka kembali memenuhi ruang makan, ditemani denting sendok dan garpu—musik sederhana yang selalu menjadi lambang kebahagiaan dalam keluarga Wijakso.
"Pah, mama kangen lia. kapan ya dia pulang ke rumah?" kata sinta kepada suaminya.
"mungkin dia lagi sibuk mah, biarkan saja dia sibuk dengan kuliahnya. ntar dia kesini juga" jawab joko pada istrinya sambil membaca koran.
"Apa mama telfon lia untuk memastikan dirinya?" tanyanya pada sang suami.
"terserah mama saja" jawab joko.
Malam di Taman Fajar Bara turun tanpa perubahan yang jelas.Tidak ada langit yang mendadak gelap.Tidak ada matahari yang benar-benar tenggelam.Tidak ada batas tegas antara sore, malam, dan pagi.Cahaya lembut Omni-Nuranipura tetap tinggal,seperti napas panjang yang tidak pernah putus.Dan malam itu,untuk pertama kalinya,seluruh semesta terasa… lelah.Namun bukan lelah yang menyakitkan.Bukan lelah karena terlalu banyak berjalan.Melainkan lelah yang datang setelah seseorang akhirnya berhenti melawan dirinya sendiri.Lelah yang lembut.Lelah yang aman.Lelah yang akhirnya diizinkan untuk beristirahat.Musisi masih berada di bawah pohon paragraf.Gitarnya terbaring di sampingnya.Namun malam itu,ia tidak merasa perlu memainkan apa pun.Ia hanya bersandar pada batang pohon,mendengarkan suara sungai nada yang mengalir jauh di kejauhan.Dan untuk pertama kalinya,diam terasa sama hangatnya dengan musik.Ia memejamkan mata perlahan.Tidak untuk tidur.Hanya untuk merasakan malam.Di
Pagi berikutnya datang tanpa perbedaan.Tidak ada perubahan besar di langit Omni-Nuranipura.Tidak ada suara baru.Tidak ada cahaya aneh yang muncul dari balik aurora.Dan justru karena semuanya tetap tenang, sesuatu yang lebih halus mulai terasa tumbuh di antara seluruh kehidupan yang ada di sana.Bukan perubahan bentuk.Bukan perubahan nasib.Namun perubahan cara segala sesuatu hadir.Seolah semesta itu akhirnya berhenti berusaha menjadi apa pun.Dan dari situ, kehidupan mulai menunjukkan dirinya yang paling jujur.Kabut tipis masih turun di Taman Fajar Bara.Rumput-rumput kecil basah oleh embun.Udara pagi terasa dingin, namun bukan dingin yang menusuk.Ia terasa seperti tangan lembut yang diletakkan perlahan di atas kepala seseorang yang terlalu lama lelah.Musisi kembali berjalan melewati jalur kecil dekat sungai nada.Namun hari ini ia tidak membawa gitar.Tangannya kosong.Langkahnya pelan.Ia berhenti di dekat batu besar tempat ia dulu sering duduk menciptakan melodi.Air sung
Pagi di Taman Fajar Bara tetap datang tanpa suara.Tidak ada lonceng.Tidak ada perubahan warna langit yang dramatis.Tidak ada tanda bahwa sesuatu yang baru akan dimulai.Dan justru karena itulah, sesuatu yang sangat dalam perlahan mulai terasa.Bukan sebagai kejadian.Namun sebagai denyut.Seperti seluruh Omni-Nuranipura mulai bernapas dengan ritme yang sama.Embun masih berada di ujung daun.Namun kini, embun itu tidak lagi terlihat seperti titik-titik air yang terpisah.Mereka memantulkan cahaya dengan cara yang sama seperti bintang di langit.Dan untuk pertama kalinya, tidak ada perbedaan terasa di antara keduanya.Yang kecil dan yang besar menjadi sama tenangnya.Musisi berjalan melewati kebun langkah kecil.Gitarnya berada di punggungnya.Namun ia tidak merasa sedang membawa sesuatu.Langkahnya ringan.Bukan karena bebannya hilang.Namun karena tidak ada lagi yang disebut beban.Ia berhenti di dekat sungai nada.Air sungai mengalir perlahan.Nada-nada kecil terdengar dari arusn
Pagi di Taman Fajar Bara tidak berubah.Dan kali ini, bahkan perubahan yang halus pun tidak datang.Tidak ada lapisan baru yang terasa muncul.Tidak ada pemahaman baru yang tiba.Tidak ada sesuatu yang membuka diri.Namun justru di situlah, sesuatu yang paling dalam mulai tinggal.Bukan hadir sebagai kejadian.Bukan hadir sebagai kesadaran yang datang.Namun sebagai sesuatu yang… tidak pernah pergi.Untuk pertama kalinya, para jiwa di taman tidak lagi merasakan “sesuatu yang terjadi”.Musisi itu duduk seperti biasa.Gitarnya berada di pangkuannya.Namun kali ini, ia tidak merasa sedang memainkan musik.Ia juga tidak merasa sedang tidak memainkan musik.Tangannya bergerak.Nada terdengar.Namun tidak ada jarak antara dirinya dan apa yang terjadi.Tidak ada “aku yang memainkan”.Tidak ada “musik yang dihasilkan”.Hanya… suara yang ada.Dan ia… tidak terpisah darinya.Ilustrator duduk di bawah pohon.Pensil berada di tangannya.Ia membuat satu garis.Namun tidak ada rasa “aku sedang meng
"Suara ini... tidak ada dalam aturan musik mana pun yang pernah kubaca," bisik Sang Kurator, tangannya yang memegang penghapus mulai gemetar dan perlahan berubah menjadi kuas."Itulah sebabnya ia indah, Kurator," kata Nara lembut. "Karena ia tidak mengikuti aturan siapa pun kecuali atu
Kapal kecil yang baru saja bersandar di pelabuhan Neo-Nexus itu tidak terbuat dari kristal memori atau logam antariksa. Ia terbuat dari guratan krayon biru yang tebal, dengan tekstur yang sedikit kasar namun memancarkan kehangatan yang luar biasa. Kapten mudanya, seorang remaja laki-laki bernama Ka
Matahari-matahari yang terbenam di Nuranipura tidak pernah benar-benar menghilang. Mereka hanya bergeser ke fase eksistensi yang berbeda, meninggalkan semburat warna ultraviolet yang menenangkan di langit Nexus. Namun, ketenangan itu terusik ketika Nara merasakan denyut a
Pintu cahaya perak itu menelan mereka dengan kelembutan yang aneh. Namun, begitu Nara, Nari, Arka, Kaelan, dan Lia melangkah keluar di sisi lain, sensasi yang menyambut mereka sangatlah berbeda. Tidak ada angin yang membawa aroma bunga Nuranisfera. Tidak ada getaran emosional dari Web of Echoes.Me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.