"Ya sudah, jangan dibahas lagi. Vivian masih menunggumu pulang. Perempuan di masa seperti ini sangat rapuh, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama," Violeta berkata sambil tersenyun, lalu menutup telepon.Devan berdiri terpaku di tempat. Saat itu, Fadil berjalan mendekat. Melihat ekspresi Devan, dia bertanya dengan hati-hati, "Pak Devan, kalau begitu kita ...."Devan tidak bersuara. Dia memandang puncak gunung yang terang benderang seperti siang hari, penuh dengan orang yang sibuk, seolah-olah tidak ada yang melihat keberadaannya. Kemudian, dia mengangkat tangan sedikit."Kita pulang."Mendengar itu, Fadil akhirnya bisa bernapas lega. Barusan Vivian dan Violeta juga menekannya. Mereka khawatir Devan akan melakukan sesuatu yang nekat, jadi mereka menyuruhnya segera mencari cara membawa Devan kembali.Namun tadi, ketika melihat betapa tersiksanya Devan, dia sempat mengira pria itu akan bersikeras tinggal di sini tanpa memikirkan konsekuensinya.Untungnya tidak. Namun, Fadil justru mera
اقرأ المزيد