Di dalam Balairung Agung Kerajaan Medang, atmosfer terasa sarat, mencekam laksana selubung kelam meskipun genderang kemenangan atas rongrongan pemberontakan baru saja menggema dari medan laga. Sorot mata Maharaja Samarattungga, yang bertahta agung di atas singgasana berukirkan intan permata, tidak lagi terpaku pada kemegahan duniawi atau simbol kekuasaan fana, melainkan meresapi kedalaman makna dharma, cahaya abadi yang menjadi pedoman dalam setiap langkah titahnya. Setiap detak jarum waktu terasa berhenti, memberi ruang bagi keputusan-keputusan fundamental yang akan mengukir nasib Medang. Para pembesar kerajaan, menteri, dan panglima, duduk di tempat masing-masing dengan sikap tertunduk, menanti titah Sang Prabu dengan napas tertahan, seolah menggantung di udara.“Para pembesar kerajaan, para panglima perkasa, dan para menteri yang bijaksana,” titah Maharaja Samarattungga, suaranya, meski tenang, mengandung gema yang memenuhi setiap relung balairung. Aura wibawa
Terakhir Diperbarui : 2026-01-04 Baca selengkapnya