Senja merangkak di atas cakrawala Medang, mewarnai istana Watugaluh dengan pendar jingga keemasan saat Rakai Kayuwangi kembali dari peristiwa pahit di Bukit Ngobaran. Namun, pangeran yang kembali bukanlah pribadi yang sama. Langkahnya mungkin tegap, tatapan matanya tajam membidik masa depan, tetapi ada fragmen jiwa yang luka, lara yang tak terobati. Bagian dari dirinya yang dahulu bergemuruh sebagai Bandung Bondowoso, sang ksatria pemberang dan pecinta yang gigih, telah larut ditelan gelombang Laut Selatan, tersapu bersama kenangan Ron Ayu yang tercinta. Kini, ia hanya Kayuwangi, seorang Mahamentri yang membawa beban sebuah imperium di pundaknya, serta duka abadi di dasar relung hatinya. Sisa hidupnya, setiap helaan napasnya, setiap tetes keringatnya, ia persembahkan sepenuhnya untuk tanah pertiwi Medang, sebagai penebusan, sebagai amanah yang tak terucapkan.Di balairung agung istana, Paksi, patih kepercayaannya yang setia, menyambut Kayuwangi dengan hormat mendalam. Wajah tuanya men
Terakhir Diperbarui : 2026-02-20 Baca selengkapnya