Angin sejuk senja mulai merambati pelataran Candi Watangan, namun di dalam aula utama kedaton, suhu terasa membara. Kemegahan ukiran dinding dan pilar-pilar batu yang menjulang tinggi, saksi bisu kemuliaan wangsa Sanjaya, kini terselimuti ketegangan yang menyesakkan. Di tengah singgasana ukiran naga, Mpu Kumbhayoni berdiri tegak, memancarkan amarah yang tiada tara. Wajahnya merah padam, otot rahangnya menonjol, dan tangannya mencengkeram erat hulu keris di pinggangnya, jemarinya memutih saking kuatnya genggaman, seolah ingin melampiaskan murkanya pada benda pusaka tersebut.Kabar yang baru saja sampai ke telinganya, dibawakan oleh utusan yang kini masih bersimpuh gemetar di ambang pintu, bagaikan racun yang membakar relung hatinya. Putra tertuanya, Pangeran Talang Wisang, yang dipersiapkan untuk memegang estafet kepemimpinan wangsa Sanjaya, kini telah menanggalkan keduniawian, memilih jalan sunyi seorang bhikkhu. Seolah belum cukup pilu, kabar lain yang tak kalah menusuk jiwa memberit
최신 업데이트 : 2025-12-24 더 보기