Sagara tak membuang waktu. Peluit tulang telah dibunyikan, entah seberapa lemah suaranya, Rangga pasti memiliki mata dan telinga yang siap siaga. Di dunia persilatan, berasumsi sinyal itu tak sampai adalah kebodohan paling mematikan. Dengan urgensi baru yang membakar jiwanya, ia bergerak.Hutan bambu di hadapannya seperti labirin hijau. Sagara menuruni lereng tebing dengan langkah cepat namun senyap, tubuhnya serasa seringan kapas, setiap langkah adalah penari tanpa suara. Teknik 'Tusukan Arus Bawah' menjadi mantra baru yang mengalir di benaknya. Ujung jari kakinya menyentuh lumut, sebuah denyutan energi halus menjalar, menghapus jejak, mengembalikan bumi ke asalnya. Ia bukan lagi pengejar. Ia adalah bayangan, jejak tak kasat mata di atas dunia yang penuh mata.Angin pagi mengusik dedaunan, membawa bisikan lautan dan juga, entah mengapa, bisikan Larisa. Wajah tunangannya yang cantik, tawanya, janji-janji yang tak sempat terpenuhi. Amarah kembali berdesir, tetapi kali ini, ia bukan bad
閱讀更多