Air mata mengalir pelan, dia berdiri di tepi tempat tidur tidak berani mendekat, memandang Amanda dengan hati yang pilu."Amanda ... maafkan aku.""Aku yang membuatmu seperti ini. Bisakah kamu bangun? Marahi aku.""Kita sudah kenal selama bertahun-tahun, kamu sebentar lagi akan menjadi tante anakku, kamu nggak akan meninggalkanku begitu saja di saat seperti ini, 'kan?"Suara Nayla serak dan tersendat, air mata mengalir di pipinya, meluncur melewati bibirnya, dan menetes ke lantai.Di dalam bangsal, yang menanggapi dia hanyalah suara ventilator dan alat pemantau.Nayla memandang Amanda yang begitu diam, hatinya begitu sesak hingga sulit bernapas.Di benaknya, muncul senyuman Amanda yang cerah dan memesona. Dia bagaikan sekuntum mawar merah yang mekar.Memikat, penuh gairah, dan cerah.Namun, saat ini, dia bagaikan bunga yang layu, tanpa kehidupan.Nayla menatapnya dengan kebingungan, betapa dia ingin Amanda segera membuka mata dan melihatnya.Namun, napas Amanda sangat lemah, begitu lem
Read more