Nayla terkejut dan menoleh.Simon berdiri di belakangnya, mengenakan setelah mewah seperti biasa.Dia tinggi dan tegap, dengan pembawaan yang berwibawa, anggun dan elegan bagaikan seorang dewa.Nayla menahan semua emosinya, raut wajahnya tampak mengeras. "Sedang apa kamu di sini?"Simon merasa seakan dadanya dicengkeram erat. Dia mengepalkan tinjunya, berkata dengan suara rendah, "Aku datang jenguk Kakek.""Nggak usah. Silakan pergi."Nayla acuh tak acuh, tatapan dinginnya tertuju seperti menatap orang asing.Simon tidak ingin pergi. Matanya yang muram tertuju pada wajah Nayla. "Nayla, kamu sebenci itu padaku?"Benci?Nayla berdiri menghadapinya, seolah baru mendengar lelucon paling konyol di dunia. Dia berkata dengan rahang terkatup."Kalau bukan karena kamu, Kakek nggak akan koma.""Simon, waktu kamu menyangkal janjimu, apa kamu sempat memikirkan perasaanku, perasaan Kakek?""Oke, ceritakan padaku. Apa masalahmu malam itu sampai membuatmu mundur di depan begitu banyak orang?""Jika k
Read more