"Nayla, kamu di mana?"Simon duduk di kursi belakang, wajahnya tiba-tiba tegang saat merasakan ada yang aneh dengan suara Nayla.Napas Nayla tersengal dan lemah. "Di jalan arah selatan rumah sakit .... Aku ... aku di dalam mobil.""Oke, jangan takut, aku ke sana sekarang."Suara Simon mencekam, dan dia segera memerintahkan Ben untuk mengemudi ke sana.Telepon masih terhubung, berusaha menenangkan.Tapi, suara Nayla semakin lemah.Wajah Simon tampak muram, jantungnya berdebar kencang.Untungnya, mobilnya tidak jauh dari sana, jadi dia segera tiba di tempat.Tapi, dia tetap mendesak Ben untuk lebih cepat. Rasa takut merayapi dirinya, tangannya terkepal erat-erat."Nayla, jangan takut. Aku sebentar lagi sampai.""Oke, cepat ...."Nayla menjawab dengan lemah, suaranya bergetar karena isak tangis.Hati Simon terasa pilu.Dia sangat khawatir, tidak tahu apa yang terjadi pada Nayla.Terutama karena kondisinya sekarang membuatnya merasa ngeri."Lebih cepat lagi!"Simon merasa menit-menit perja
Read more