Aku menghela napas panjang, menatap wanita yang sangat kucintai itu meringkuk seperti pencuri yang tertangkap basah. Padahal, akulah yang membukakan pintu untuk pencuri itu."Sssttt..." Aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya yang bengkak, menghentikan racauan paniknya. "Aku tahu, Amanda. Aku tahu semuanya."Amanda terdiam, matanya menatapku tak percaya. "Kamu... kamu nggak marah?""Aku yang mengizinkannya," jawabku jujur, meski setiap kata itu terasa seperti pecahan kaca di tenggorokanku. "Aku yang menyuruh Livia untuk melanjutkan. Aku... aku minta maaf karena nggak bisa ada di sini saat kamu butuh."Mendengar pengakuan itu, bahu Amanda merosot lega. Air mata menetes dari sudut matanya. Namun, detik berikutnya, aku melihat kilatan aneh di matanya. Kilatan yang bukan berasal dari Amanda-ku yang waras, melainkan sisa-sisa zat kimia yang masih membanjiri otaknya.Dia menatapku, lalu menoleh ke arah Livia yang berdiri mematung di sudut kamar."Tapi ini nggak adil buat kamu, Rey," guma
Last Updated : 2025-12-28 Read more