Napas Madam Rosa memburu di telingaku, panas dan basah. Tubuhnya yang polos menempel erat pada punggungku, payudaranya menekan kemejaku yang sudah basah oleh keringat."Minggirkan dia," perintah Rosa lagi, kali ini tangannya mencengkeram bahuku, kukunya menancap memberi tanda kepemilikan.Aku menoleh sedikit, melihat Livia yang tergeletak lemas di bawahku. Matanya terpejam, dadanya naik turun tak beraturan, sisa-sisa ekstase dan obat membuatnya nyaris pingsan. Dia sudah melakukan tugasnya. Sekarang giliranku.Dengan gerakan perlahan, aku mengangkat tubuhku dari Livia. Aku membenarkan posisi Livia, menyandarkannya ke sudut sofa agar dia bisa bernapas lega, lalu aku berbalik menghadap Sang Ratu.Rosa tersenyum puas. Dia merentangkan kakinya, mengundangku tanpa rasa malu sedikitpun."Kemarilah, Rajaku," bisiknya parau. "Isi aku. Sekarang."Aku mendekat. Tapi aku tidak langsung menindihnya.Aku berlutut di antara kedua kakinya di atas sofa itu. Tanganku menjalar naik, menyentuh betisnya y
Last Updated : 2025-12-30 Read more