"Dompetku..." Aku mendesah panjang sambil menuruni tangga besi ruko tua itu. "Rasanya seperti baru saja dirampok, padahal aku bos mafianya."Amanda yang berjalan di depanku tertawa cekikikan. Suaranya menggema di gang sempit yang gelap."Ayolah, Rey. Anggap saja itu investasi," godanya sambil memeluk lengan kiriku. "Lagipula, wajahmu saat melihat Ayah masuk tadi itu priceless. Kamu pucat sekali, seperti maling ayam yang ketangkap basah.""Itu karena aku sayang nyawa, Nyonya Morales," belaku, membukakan pintu penumpang Hummer H1 untuknya. "Ayah kalau marah tidak pakai kata-kata, tapi pakai peluru."Amanda masuk ke dalam mobil, masih dengan sisa-sisa tawa di wajahnya. "Tapi jujur, aku lega. Ternyata Ayah romantis banget ya. Cincin Blue Diamond... wow."Aku memutari mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan membanting pintu berat itu hingga tertutup rapat.BLAM.Keheningan kabin Hummer yang kedap suara langsung menyelimuti kami, memisahkan kami dari hiruk-pikuk Distrik Seni Verdansk.Aku meny
Última actualización : 2026-02-04 Leer más