Satu sentimeter.Hanya sejauh itu jari telunjuk kananku bergeser, bergesekan dengan permukaan lantai batu yang dingin. Namun, gerakan sekecil itu mengirimkan gelombang euforia yang tak terlukiskan ke seluruh jaringan otakku. Saraf motorikku yang tadinya mati, kini kembali bernyanyi.Perlahan, aku mengirimkan perintah ke jari tengahku. Lalu jari manis. Kelingking. Jempol. Semuanya merespons dengan sempurna.Aku menarik napas panjang, meraup udara beku Puncak Verdansk. Anehnya, udara yang masuk ke paru-paruku tidak lagi terasa seperti oksigen biasa. Setiap tarikan napasku seolah menyedot partikel-partikel energi di sekitarku, memutarnya di dalam Dantian, lalu menghembuskannya sebagai uap panas yang membelah kabut malam.Dengan sangat lambat, aku menekan telapak tanganku ke lantai batu dan mendorong tubuh bagian atasku untuk duduk.KRAK... KRAAAK...Suara retakan yang tajam terdengar dari sekujur tubuhku. Awalnya, aku mengira ada tulangku yang kembali patah. Namun, rasa sakit itu tidak a
Read more