Ukh!Aku mencengkeram pinggiran sofa, menahan erangan sakit agar tidak membangunkan istri-istriku. Tenggorokanku terasa sangat amis. Seteguk darah berwarna hitam pekat dan mendidih meluncur dari mulutku, menetes ke atas karpet bulu.Aku mengangkat kepalaku dengan susah payah, menatap pantulan diriku di cermin.Mataku tidak memancarkan warna Emas Kemerahan yang biasanya, melainkan warna hitam pekat tanpa dasar. Dan yang lebih mengerikan, di kulit dada kiriku, tepat di atas jantungku, sisa-sisa racun afrodisiak dari Hakim Tanpa Wajah itu berevolusi, membentuk sebuah tato kutukan berbentuk bunga teratai hitam berdaun sembilan. Tato itu berdenyut seirama dengan detak jantungku, memancarkan hawa dingin es yang perlahan mulai menyumbat seluruh jalur meridian Qi Purgatoriku.Hadiah ini bukanlah sekadar bumbu kencan. Ini adalah kalung pengekang yang sengaja dipasang di leher sang Tiran.Aku memejamkan mata, mengatur napas secara paksa untuk menekan gejolak racun di jantungku. Dengan gerakan c
Read more