Elena tersedak, memuntahkan air asin dari paru-parunya. Matanya terbuka dengan susah payah, perih karena garam. Hal pertama yang ia cari bukan nyawanya sendiri, melainkan beban di pelukannya. "Valerius..." suaranya parau, nyaris hilang. "Dia aman, Elena. Tenanglah." Suara itu bukan halusinasi. Itu adalah bariton rendah yang sangat ia kenal, suara yang selama berbulan-bulan ini hanya mampir dalam mimpi-mimpinya sebagai hantu. Elena menoleh ke samping dan melihat sosok pria itu. Leon. Dia tampak berbeda, lebih kurus, dengan bekas luka baru yang melintang di pelipisnya—tapi tatapan mata itu tetap sama. Tajam namun penuh perlindungan. Namun, sebelum Elena sempat memproses keajaiban itu, kesadarannya kembali merosot ke dalam kegelapan. Tubuhnya terlalu lelah untuk menampung emosi yang meledak-ledak. Ribuan mil dari perairan tempat Elena melompat, di sebuah bangunan tua bergaya gotik yang menghadap ke pelabuhan Vladivostok yang membeku, suasana jauh dari kata tenang. Di dalam sebua
Ler mais