Keheningan di kamar itu terasa lebih menyesakkan daripada riuh badai di pemakaman. Elena duduk di pinggir ranjang, jemarinya yang pucat meraba permukaan selimut beludru yang dingin. Pikirannya seperti kaset rusak, terus memutar suara napas terakhir Valerius yang tersengal.Leon masuk dengan langkah yang diredam, membawa nampan berisi sup hangat yang aromanya justru membuat lambung Elena bergejolak mual."Makan sedikit, Elena. Hanya beberapa suap," bujuk Leon dengan suara yang dipaksa tenang, meski getaran di tangannya tidak bisa disembunyikan.Elena tidak menyahut. Dia menoleh ke sudut ruangan, ke arah lemari kayu putih yang pintunya sedikit terbuka, memperlihatkan tumpukan baju bayi yang baru saja dicuci minggu lalu. Masih ada sisa aroma detergen bayi yang lembut di sana—aroma yang kini terasa seperti racun."Buang semua itu, Leon," bisik Elena tiba-tiba.Leon tertegun, tangannya yang memegang sendok menggantung di udara. "Apa? Elena, itu barang-barang—""Aku bilang buang!" Suara Ele
Ler mais